Bangli Pipa Gas Dibongkar

DI ANGKUT: Petugas dibantu warga melakukan penertiban bangunan liar di di Kemirimuka, Beji, Depok, Selasa (14/4). Sebanyak 65 bangunan liar tersebut dirobohkan karena tak berizin dan berdiri diatas jalur pipa gas, dan rencananya akan dialihfungsikan menjadi taman kota.
DI ANGKUT: Petugas dibantu warga melakukan penertiban bangunan liar di di Kemirimuka, Beji, Depok, Selasa (14/4). Sebanyak 65 bangunan liar tersebut dirobohkan karena tak berizin dan berdiri diatas jalur pipa gas, dan rencananya akan dialihfungsikan menjadi taman kota.
DIANGKUT: Petugas dibantu warga melakukan penertiban bangunan liar di di Kemirimuka, Beji, Depok, Selasa (14/4). Sebanyak 65 bangunan liar tersebut dirobohkan karena tak berizin dan berdiri diatas jalur pipa gas, dan rencananya akan dialihfungsikan menjadi taman kota.

POJOKSATU.id, DEPOK – Dianggap melanggar Perda Nomor 16 Tahun 2012 tentang ketertiban umum, 65 bangunan liar (Bangli) di sepanjang jalur pipa gas dan satu Tempat Pembuangan Sampah (TPS) liar di Kelurahan Kemiri Muka Beji dibongkar petugas gabungan, kemarin (14/4). Tidak hanya itu, puluhan bangli tersebut berdiri di lahan milik Pemkot Depok, dan melintasi pembangunan Tol Cinere-Jagorawi Seksi II. Petugas gabungan berasal dari TNI, Polri, PT KAI, Satuan Polisi Pamong Praja, Dinas Perhubungan, dan Pertamigas “Para pemilik bangli didominasi pendatang, tidak mempunyai KTP.

Sebelumnya telah tiga kali memberikan surat peringatan kepada mereka,” tutur Kepala Satpol PP Kota Depok, Nina Suzana kepada Radar Depok. Diketahui, bangunan yang dibongkar mayoritas tempat usaha seperti warung nasi, salon, bengkel, dan rumah. “Ini program Pemkot Depok hijau dan bersih. Bukan karena tol ya,” tegasnya. Setelah melakukan pembongkaran, wilayah ini nantinya bakal dijadikan ruang terbuka hijau (RTH).

Tupoksi menjadikan lahan ini menjadi RTH diserahkan pada Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP). “Akan dikembalikan menjadi RTH sebagaimana mestinya,” terangnya.Selain itu, lanjut Nina, terdapat satu TPS ilegal yang akan segera ditertibkan. “Informasi yang kami peroleh TPS ilegal dengan tumpukan sampah, berasal dari salah satu tempat usaha swasta pemukiman. Tetapi kami masih selidiki itu. Untuk sampah yang numpuk kami sudah siapkan delapan truk mengangkut sampah dari TPS ilegal ke TPS resmi,” tandasnya.

CDO Pertamina Gas, Taufik Hidayat menambahkan, kehadiran bangli tersebut bisa membahayakan, karena memicu aksiden yang parah, seperti kebakaran. “Maka kami melarang keras ada bangunan di sana. Sangat berbahaya bila ada aktivitas di atasnya,” ujar dia.Ia menuturkan, salah satu pertimbangan utama pembongkaran bangunan liar adalah karena adanya jalur pipa gas di bawahnya. Kedalaman pipa gas dari permukaan tanah adalah 3 meter. Taufik melanjutkan, jalur pipa gas itu menjadi medium penyaluran gas dari Distrik Tegalgede sampai ke Bekasi.


Adapun panjang pipa gas yang termasuk dalam area penertiban panjangnya 1 kilometer. Dia mengatakan, pembongkaran tersebut dilakukan bertahap.“Kami mensyukuri, selama proses penertiban kondisi aman dan terkendali. Gangguan sosial pun tidak bergejolak,” tegasnya.Veronika, salah seorang warga yang tempat usaha isi ulang airnya dibongkar, mengaku tak bisa berbuat apa-apa. Sejak setahun ia menempati bangunan itu, hanya bermodal izin dari salah seorang aparat. “Sedih.

Tapi tidak bisa apa-apa. Sebab, ini bukan tanah saya,” jelas Veronika. Ia mengatakan telah mengungsikan barangnya, ke rumahnya yang berada di Jalan Juanda. “Saya akan buka usaha di sana,” ujarnya. Penghuni lainnya yang tempat tinggalnya digusur, Pia (37) mengatakan, ia tinggal bersama suami dan satu anaknya sudah tiga bulan. “Kami menyewa lahan perbulan bayar Rp150 ribu ke penyewa bos Mulyadi,” ungkapnya. Ibu satu anak asal Wonosobo, Jawa Tengah ini, mengaku sudah mendapatkan tempat tinggal baru untuk sementara waktu. “Mau bagaimana lagi lokasi sewa sudah digusur, sementara akan pindah di tempat yang tidak jauh dari lokasi sekitar,” pungkasnya pasrah.

(ham)