Kisah Luwu Ijo dari Laut Cirebon, buat Banyak Kapal Karam

Filolog Cirebon, R Opan Safari Hasyim yang berkunjung ke makam Pangeran Brata Kelana bersama Kepala Disbudparpora Kabupaten Cirebon, Hartono./Foto: Rci

Filolog Cirebon, R Opan Safari Hasyim yang berkunjung ke makam Pangeran Brata Kelana bersama Kepala Disbudparpora Kabupaten Cirebon, Hartono./Foto: Rci


POJOKJABAR.com, CIREBON– Luwu Ijo, perompak kejam dari Laut Cirebon, mungkin bisa disejajarkan dengan Jack Sparow, Bajak Laut dari Karibia.

KISAH Luwu Ijo barangkali belum banyak dibicarakan. Nama ini pertama kali muncul saat Radar Cirebon (Pojokjabar.com group) menghubungi Filolog Dr R Rafan Safari Hasyim.

Pembicaraan pagi itu, seputar banyaknya kapal karam di perairan Cirebon. Juga mengenai potensi harta karun bawah laut.

Sayang, Opan -sapaan akrabnya- memang tak mendalami terkait dengan potensi harta karun dari kapal karam di laut Cirebon.

Dia lantas menyebut satu nama. Luwu Ijo. Yang dikenal sebagai perompak kejam dan sangat ditakuti di wilayah Laut Cirebon.

Luwu Ijo diduga bermarkas di sekitar Gebang. Bajak laut ini, kerap mengganggu kapal-kapal yang hendak berlabuh di Cirebon.

Abad 17, Cirebon memang masuk dalam wilayah perairan yang menjadi jalur lintasan perdagangan internasional.

Luwu Ijo hidup di masa Sunan Gunung Jati. Yang ketika itu adalah pemimpin di wilayah Cirebon.

Kisah perompak Luwu Ijo juga terkait dengan Pangeran Brata Kelana. Calon raja Kesultanan Cirebon yang juga anak Sunan Gunung Jati.

Dari sejumlah sumber yang dihimpun Radar Cirebon, Pangeran Brata Kelana adalah putera Sunan Gunung Jati dari istri Nyi Mas Rarajati.

Pangeran muda ini, dikenal karena prestasinya. Lantas Sunan Gunung Jati menikahkan sang pangeran dengan Ratu Nyawa anak yang merupakan anak Sultan demak ke III Pangeran Tenggana.

Menurut Naskah Carita Purwaka Caruban Nagari, Pangeran Brata Kelana meninggal di tengah lautan.

Ketika itu, dalam perjalanan ke Cirebon-Demak atau mungkin juga sebaliknya, di Pantai Gebang dia diadang kapal perompak.

Pertarungan sengit pun terjadi. Namun, karena kalah jumlah Pangeran Brata Kelana terbunuh.

Kemudian mayatnya dibuang di lautan. Dan ditemukan di pesisir Pantai Mundu. Kemudian dia dimakamkan di sekitar Desa Mundu Mesigit Kabupaten Cirebon.

Sunan Gunung Jati yang mengetahui anaknya dibunuh perompak lantas murka. Dia menugaskan Ki Gede Bungko untuk menumpas kawanan perompak itu. Hingga akhirnya mereka berhasil ditumpas sampai tak bersisa.

Filolog Cirebon, R. Opan Safari Hasyim yang berkunjung ke makam tersebut bersama Kepala Disbudparpora Kabupaten Cirebon, Hartono mengungkapkan, makam di Mundu tersebut adalah milik Pangeran Bratakelana anak Sunan Gunung Jati, Syarifah Quriasin yang merupakan istri dari Irak.

Sementara satu makam lainnya adalah Ma Hwan, yang merupakan asisten sekaligus penulis catatan perjalanan Cheng Ho di Nusantara. Termasuk saat singgah di Cirebon.

Adapun kisah Luwu Ijo menjadi kembali menarik untuk diperbincangan. Sehubungan dengan tengah kembali mencuatnya harta karun di Perairan Laut Cirebon.

(Rci/pojokjabar)

Daftar untuk Tonton Launching Motor Honda New PCX Klik Disini
Loading...

loading...

Feeds