Filolog Cirebon Curhat Soal Makam Anak Sunan Gunung Jati, Ini Kata Disbudparpora

Makam Pangeran Bratakelana di Desa Mundu Mesigit, Kecamatan Mundu, Kabupaten Cirebon./Foto: Rci

Makam Pangeran Bratakelana di Desa Mundu Mesigit, Kecamatan Mundu, Kabupaten Cirebon./Foto: Rci


POJOKJABAR.com, CIREBON– Ada makam istri dan anak Sunan Gunung Jati, peninggalan sejarah di Desa Mundu Mesigit, Kecamatan Mundu, Kabupaten Cirebon.

Filolog Cirebon, R, Opan Safari Hasyim mengungkapkan, makam di Mundu tersebut adalah milik Pangeran Bratakelana anak Sunan Gunung Jati, Syarifah Quriasin yang merupakan istri dari Irak.

Sementara, satu makam lainnya adalah Ma Hwan, yang merupakan asisten sekaligus penulis catatan perjalanan Cheng Ho di Nusantara. Termasuk saat singgah di Cirebon.

Terkait ketiga makam tersebut memang masih memerlukan penelitian lebih lanjut.

Seperti diketahui, Pemerintah Kabupaten Cirebon telah membentuk tim ahli cagar budaya. Mereka ditugaskan untuk meneliti dan menggali yang diduga cagar budaya.

Kepala Disbudparpora Kabupaten Cirebon, Hartono mengatakan, di Kabupaten Cirebon terdapat ratusan benda yang diduga cagar budaya.

Sementara baru tujuh lokasi yang sudah ditetapkan sebagai cagar budaya.

“Baru tujuh lokasi yang sudah ditetapkan tim ahli cagar budaya dari kementerian karena waktu itu kami belum punyai tim ahli cagar budaya,” tuturnya.

Tugas dari tim ahli cagar budaya ini menurut Hartono yakni meneliti dan mengkaji benda atau lokasi yang diduga sebagai cagar budaya. Sehingga dapat ditentukan statusnya. Apakah termasuk dalam cagar budaya atau tidak.

Tim ahli ini menurut Hartono yang akan membuat rekomendasi kepada Bupati Cirebon.

“Yang skalanya menurut tim ahli ini skala kabupaten maka diserahkan kepada pak bupati. Kemudian yang skalanya provinsi, diserahkan kepada pak gubernur. Yang skalanya nasional diserahkan kepada Kementerian Kebudayaan,”ungkapnya.

Setelah penetapan cagar budaya, barulah dilakukan pengelolaan. Setelah statusnya jelas, penganggaran untuk pemeliharaan bisa dilakukan.

Hartono mengungkapkan ketika belum ditetapkan cagar budaya, pemerintah akan sulit memberikan bantuan terutama untuk pemeliharaannya.

“Karena 95 persen yang diduga cagar budaya yang ada di Kabupaten Cirebon itu tanahnya bukan milik Pemkab Cirebon. Kita terbentur regulasi untuk menganggarkan pemeliharaan,” tuturnya.

Ketika lokasi sudah ditetapkan sebagai cagar budaya, akan ada regulasi yang mengatur anggaran pemeliharaan cagar budaya.

Pihaknya menargetkan tim ahli cagar budaya Pemkab Cirebon ini akan mengkaji dan meneliti 12 lokasi yang diduga cagar budaya dalam satu tahun ini.

“Tahun 2021 ada 12 yang diduga cagar budaya yang akan diteliti,” tuturnya.

(Rci/pojokjabar)

Daftar untuk Tonton Launching Motor Honda New PCX Klik Disini
Loading...

loading...

Feeds