Fenomena Perebutan Kekuasaan Kesultanan Kasepuhan Cirebon

Festival Keraton Nusantara ke-XI akan digelar di Cirebon 15 September mendatang (ilustrasi)

Festival Keraton Nusantara ke-XI akan digelar di Cirebon 15 September mendatang (ilustrasi)


POJOKJABAR.com, CIREBON– Fenomena baru dalam kehidupan masyarakat Cirebon adakah perebutan kekuasaan (Tahta Sultan) di Kesultanan Kasepuhan Cirebon.

Masyarakat pun disuguhi romantisme feodalisme lembaran sejarah kejayaan salah satu kerajaan Islam yang memiliki pengaruh kuat dalam penyebaran Islam di pesisir Utara Tanah Pasundan (Jawa Barat).

Kantor Berita RMOLJabar pun mencoba mencari jawaban dan menghubungi salah satu tokoh yang mengklaim dirinya masih memiliki darah biru dari keturunan Pangeran Cakra Buana Anak Raja Siliwangi penguasa Kerajaan Padjajaran.

Adalah Raden Udin Khaenudin yang mengklaim keturunan bangsawan Kerajaan Singapura sebagai cikal bakal berdirinya Kesultanan Cirebon (Kerajaan Islam di Pesisir Cirebon).

Raden Khaenudin begitu disapa, mengaku prihatin dengan terjadinya perebutan tahta Sultan Sepuh di antara keluarga Kesultanan Cirebon.

“Kami melihat ini fenomena baru dan langka, di antara keluarga Kesultanan Cirebon terjadi rebutan tahta untuk menjadi Sultan Sepuh ke XV, “ begitu dikatakan Raden Khaenudin, Sabtu (8/8) malam.

Saat disinggung apakah ada upaya dari para keturunan Kesultanan Cirebon untuk mencari solusi dari kemelut perbuatan Tahta Sultan Sepuh ke XV di Keraton Kasepuhan Cirebon, Raden Khaenudin mengaku sudah menjalin komunikasi di antara keluarga Kesultanan Cirebon untuk membentuk Dewan Kesultanan Cirebon.

“Kami sedang menyusun kepengurusan Dewan Kesultanan Cirebon yang terdiri dari keluarga Keraton dari Kanoman, Kasepuhan, Keprabonan dan Keraton Singapura untuk dideklarasikan pada bulan Agustus ini, “ demikian Raden Udin Khaenudin.

(Rmol/pojokjabar)

Loading...

loading...

Feeds