Demi Kepentingan Bisnis Situs Pangeran Mantangaji Diratakan Tanah

Situa Pangeran Matangaji saat belum diratakan tanah. Dede

Situa Pangeran Matangaji saat belum diratakan tanah. Dede


POJOKJABAR.com, CIREBON – Sangat disayangkan, situs bersejarah yang seharusnya dijaga dan dirawat, justru dibongkar dan dijadikan sebagai kawasan perumahan.

Hal tersebut terjadi di Situs Pangeran Matangaji yang terletak di RT 1 RW 09 Kelurahan Karyamulya Kecamatan Kesambi Kota Cirebon.

Situs yang terletak di bantaran sungai ini, sudah rata dengan tanah, dan kini sedang dalam proses pengolahan yang dilakukan oleh alat berat.

Hal tersebut sudah berlangsung sejak 10 bulan yang lalu. Untuk menuju ke situs ini, harus melewati sebuah turunan yang curam menuju ke Sungai Situgangga, dan masih bisa diakses. Kini lokasi bekas situs sudah tidak bisa diakses karena tertutup tanah gundukan proyek.

Menurut salah satu warga yang namanya enggan disebutkan, dirinya melihat langsung proses pembongkaran situs tersebut. Dirinya merasa bersedih, karena situs bersejarah yang seharusnya dijaga dan dirawat, justru dibongkar seenaknya.

Dia menuturkan, situs tersebut kerap dikunjungi oleh orang-orang untuk berziarah. Karena menurut cerita dari sang nenek, di situs tersebut merupakan petilasan Pangeran Matangaji, Sultan ke V dari Kesultanan Kasepuhan Cirebon yang bertahta pada 1753-1773.

Nama aslinya adalah Shafiudin. Dijuluki Matangaji karena beliau merupakan seorang Sultan yang matang dalam mengaji atau pandai dalam ilmu agama, sehingga disebut Matangaji.

Konon katanya, di situs tersebut Pangeran Matangaji menyembunyikan berbagai senjata yang dibuat untuk melawan penjajah Belanda (saat itu masih bernama VOC).

Senjata tersebut awalnya dibuat diam-diam di Gua Sunyaragi. Karena ketahuan Belanda, akhirnya Pangeran Matangaji melarikan diri ke wilayah Sumber.

Sebelum sampai, dia menyembunyikan terlebih dahulu senjata-senjata tersebut di Karyamulya. Sayangnya, situs tersebut kini rata dengan tanah.

“Dulunya di sini banyak yang berziarah, biasanya habis dari makam Sunan Gunung Jati langsung ke sini,” jelasnya saat ditemui di rumahnya yang berdekatan dengan situs, Sabtu (15/2/2020).

Saat situs tersebut dibongkar, dirinya pun tak bisa berbuat apa-apa. Apalagi, dia tak tahu harus mengadu ke mana. Dia pun menyayangkan pihak developer yang hanya menjanjikan saja kepada warga sekitar.

Sebelumnya, pihak developer berjanji akan membuat akses jalan menuju ke masjid yang ada di Jalan Swasembada yang ada di seberang sungai, karena kampungnya terbelah oleh Sungai Situgangga yang ada di situs.

“Sebelum ada perumahan, anak-anak pada ngaji ke masjid itu. Sekarang ketika mau dibikin perumahan, akses jalannya ditutup. Kami tidak bisa berbuat apa-apa,” tuturnya.

Selain membongkar situs, proyek yang dikerjakan terbit terkesan tidak mempedulikan lingkungan sekitar.

Setelah pembongkaran situs yang mayoritas ditumbuhi pohon bambu, developer membuang bambu yang sudah ditebang ke sungai. Hal ini membuat kampung di RT 1 RW 09 Kelurahan Karyamulya menjadi kebanjiran.

Menurut Litbang RW 09, Casma, hujan besar yang membasahi Kota Cirebon beberapa hari lalu, membuat banjir di wilayahnya. Hal ini dikarenakan bantaran sungai Situgangga di sisi bekas situs, ditinggikan dan ditutupi oleh bekas bambu. Akibatnya, air meluap ke sisi kampung, dan merendam hingga sedada orang dewasa.

“Beberapa rumah yang ada di dekat sungai terendam semua,” jelasnya.

Sayangnya, lanjutnya, belum ada bantuan terkait banjir tersebut dari pihak developer. Bahkan pasca banjir saja, pihak developer sama sekali belum mengulurkan tangannya. Casma pun pernah menegur ke mandor proyek. Namun dia hanya diberi tahu agar melapor saja ke pihak developer.

“Kita berharapnya ada kompensasi dari pihak developer saja, supaya warga kampung sini tidak merasa dirugikan dengan adanya pembongkaran di bantaran sungai,” pungkasnya.

(dat/pojokjabar)

Loading...

loading...

Feeds