Jemput Bola, BKSDA Cirebon Kelimpahan Kukang Jawa Terjebak di Wilayah Indramayu

Kukang Jawa yang ditemukan di pemukiman warga Kabupaten Indramayu./Foto: Rmol

Kukang Jawa yang ditemukan di pemukiman warga Kabupaten Indramayu./Foto: Rmol


POJOKJABAR.com, CIREBON– Penyerahan satwa liar dilindungi undang-undang jenis Kukang Jawa (Nycticebus javanicus) dewasa kembali diterima pihak Resor Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Cirebon.

Kukang Jawa yang terjebak di pemukiman warga itu, ditemukan oleh salah seorang warga dari Kecamatan Sukra Kabupaten Indramayu. Tidak berfikir panjang, Camat Sukra Indramayu Achmad Mansur, segera menyerahkan hewan dilindungi itu ke BKSDA Cirebon

“Kukang ini berasal dari salah satu warga kami yang awalnya menemukan hewan tersebut disudut kandang ayam rumahnya yang tidak jauh dari sekitaran hutan kebon bambu, karena bingung akhirnya diserahkan ke kecamatan,” jelas Achmad, Selasa (31/12).

Penyerahan satwa Kukang ini, tidak lepas dari peran media massa yang selalu memberitakan tentang satwa-satwa yang dilindungi dan tidak boleh dipelihara atau dimiliki oleh masyarakat. Sehingga, timbul kesadaran untuk mencari informasi ke mana sebaiknya satwa ini diserahkan.

“Hewan ini dari hutan maka kami menghubungi pihak Dinas Kehutanan Indramayu, koordinasi terkait penyerahan ke BKSDA Jawa Barat. Setelah ada komunikasi hari ini kami serah terimakan,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala Resor BKSDA Cirebon Slamet Priambada mengatakan, pihaknya langsung menjemput bola dengan mendatangi kantor Kecamatan Sukra, Kabupaten Indramayu untuk melakukan proses evakuasi satwa Kukang.

“Kami mendapatkan informasi tadi malam dari petugas Satpel Dishut Indramayu bahwa ada warga sukra yang menyerahkan Kukang ke Pak Camat,” kata Slamet.

Ia menjelaskan, satwa hasil penyerahan ini akan dibawa ke kandang transit kantor Resor yang kemudian diperiksa oleh dokter hewan.

Apabila terlihat sehat, aktif dan masih terlihat sifat liarnya kemungkinan segera dilepasliarkan ke alam agar mengurangi setres dan ketergantungan kepada perlakuan pemberian makan di kandang transit.

“Setiap orang dilarang untuk menyimpan, memelihara, memiliki, menangkap, membunuh, melukai dan memperniagakan satwa baik dalam keadaan hidup ataupun mati, maupun bagian-bagiannya seperti kulit, kuku, atau yang berupa awetan satwa karena ada ketentuan pidananya,” pungkasnya.

(rmol/pojokjabar)

Loading...

loading...

Feeds