Cerita di Balik Konser Kebhinekaan Suluh Nusantara, Pelindo II Persulit Pengunjung

Pintu 1 Pelabuhan Cirebon. Dede

Pintu 1 Pelabuhan Cirebon. Dede


POJOKJABAR.com, CIREBON – Ada cerita di balik kesuksesan Yayasan Santo Dominikus cabang Cirebon mengelar konser Kebhinekaan Suluh Nusantara. Terselip cerita pahit soal sulitnya masuk ke dalam pelabuhan.

Masyarakat Cirebon mungkin beranggapan, Pelabuhan Cirebon milik masyarakat yang ingin menikmati keindahan laut dikala sore. Bisa dinakmati kapan saja, tanpa harus mengeluarkan uang untuk bisa masuk Pelabuhan.

Namun pada kenyataaannya, Pelabuhan yang sarat cerita sejarah ini, justru dikuasai pihak pemerintah yakni PT Pelindo II. Keindahan laut Cirebon dan jejak sejarah, hilang tertutup debu batu bara, demi kepentingan negara.

Masyarakat Cirebon harus merelakan Pelabuhan yang identik sebagai tempat singahnya para pedagang pada jaman dulu kala, menjadi tempat penghasil pundi – pundi dan tidak memperbolehkan masyarakat menginjakan kakinya di Pelabuhan Cirebon.

Dibawah pengawalan pihak keamanan berwajang garang, pintu masuk pelabuhan, hanya orang tertentu saja. Kondisi Pelabuhan yang kotor akibat debu batu bara menjadi pemandangan yang biasa.

Keamanan berseragam biru dongker lengkap dengan kaca mata hitam, sigap menanyakan setiap masyarakat yang mencoba masuk ke dalam pelabuhan.

Seperti halnya saat pertunjukan konser Kebhinekaan Suluh Nusantara pada Sabtu malam (14/12/2019). Ribuan tamu undangan sempat kesulitan memasuki ke lokasi konser yang berada di dalam Pelabuhan.

Berbagai argumen dilontarkan pihak keamanan penjaga pintu masuk Pelabuhan, hingga akhirnya panitia konser harus mengeluarkan uang sebesar Rp5,8 juta agar ribuan masyarakat yang ingin melihat konser bisa masuk ke dalam pelabuhan.

Namun, amat disayangkan walaupun panita telah membayarkan sejumlah uang, tetap saja petugas keamanan pintu, tetap meminta uang dengan alasan untuk biaya parkir ke setiap pengunjung yang datang.

Sutradara Suluh Nusantara Dedi Kampleng Setiawan merasa bersyukur atas suksesnya penyelenggaran tersebut, namun dirinya menyayangkan sikap arogansi dari beberapa pihak yang kurang mendukung dari Konser Kebhinekaan itu, salah satunya adalah Pelindo.

Kampleng menyebutkan, Pelindo tidak semestinya berbuat demikian, pasalnya pelabuhan ini milik rakyat Kota Cirebon, tidak seharusnya warga Kota Cirebon yang ingin masuk kedalam Pelabuhan harus dikenakan biaya.

“Pelindo minta biaya ganti rugi penggunaan tempat, akhirnya dimintalah retribusi tiket masuk perorang perkendaraan,ngkap” ungkap Kampleng saat menggelar jumpa Pers disanggar Bisa Santa Maria Jalan Sisingamangaraja.

Pelindo seharusnya mensupport kegiatan ini, lanjut Kampleng. Kegiatan Konser Kebhinekaan ini tujuanya untuk bersama bukan untuk komersial.

“jika Pelindo memungut Rp1000 kepada masyarakat, maka kami juga meminta agar Pelindo membayar setiap debu batu bara yang jatuh kelantai dan dihirup oleh masyarakat,” tegas Kampleng.

Sementara itu, Pimpinan Produksi Jafarudin yang juga mantan Anggota DPRD Kota Cirebon Periode 2014-2019 menuturkan, Pelindo bertindak sangat arogan untuk tetap meminta tiket masuk, bahkan dari perdebatan tersebut ada salah satu kru yang disandera selama 2 jam untuk dimintai tanggung jawab apabila ada kejadian diluar ketentuan.

“Bisa dibayangkan, bila satu orang dikenakan tiket masuk ada 1300 peserta 565 kru dan juga ribuan penonton yang masuk sudah berapa, dan itu saya yang tanggung semua,” tutur Jafararudin.

Jafar berharap, kedepan Pemerintah harus hadir dalam setiap kegiatan kebangsaan, maka pihaknya meminta agar pengurusan administrasi dalam kegiatan kemasyarakatan, Pemerintah harus bisa memangkas birokrasi.

Sementara DGM Kormesial PT Pelindo II Adriansyah mengatakan mengkhatirkan menjadi debat kusir terkait konser Kebhinekaan Sulus Nusantara.

“Kalau saya komentar nantinya jadi debat kusir biar saja kami yang dizholimi,” pungkasnya

(dat/pojokjabar)

Loading...

loading...

Feeds