Motor Diambil Paksa Debt Collector Nur Lapor ke Polres Sumber

ilustrasi

ilustrasi

POJOKJABAR.com, CIREBON – Masyarakat dibuat resah dengan sikap kasar rombongan debt collector, yang mengambil paksa kendaraan roda dua. Seperti yang terjadi pada Muhamad Nur (37), harus merelakan Honda Beat nopol E 4519 JT diambil paksa.

Kejadian berawal saat Nur mengendarai bersama mertuanya menuju RS Mitra Plumbon, setibanya di lampu merah Arjawinangun, tiba-tiba laju kendaraannya dicegat oleh 9 orang, dengan kasar meminta menyerahkan motornya.

“Saya dicegat oleh 9 orang debt collector, minta paksa motor yang saya gunakan mengantar mertua ke RS,” tutur Nur.

Kemudian Nur dibawa ke salah satu kantor finance di wilayah Arjawinangun secara paksa. Walaupun sempat mencoba melawan, akhirnya Nur pasrah karena kalah jumlah, mengikuti kemauan rombongan debt collector.

“Saya akhirnya pasrah, karena takut jumlah mereka banyak, saat di kantor mereka sempat cekcok mulut, tapi kalah,” katanya.

Saat di kantor, Nur dipaksa menandatangani surat penyerahan motor, tetapi di tolaknya. Kemudian, Nur berniat pulang kerumah, namum saat keluar kantor, motor miliknya sudah tidak ada.

“Suruh tandatanggan surat penyerahan motor, tapi gak mau, pas saya keluar motor udah gak ada,” ujarnya.

Ditempat terpisah, Kuasa Hukum Muhamad Nur, Iskandar SH mengatakan, pihak debt collector dianggap melanggar hukum karena pengambilan secara paksa. Karena itu, pihaknya mendatangi Polres Cirebon untuk mengadukan kasus yang dialami oleh Muhamad Nur.

“Cara debt collector tidak dibenarkan dan melawan hukum menurut Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No. 130/ PMK 010 /2012 dan Peraturan Kapolri Nomor 8 Tahun 2011,” pungkasnya.

Dari informasi yang berhasil dihimpun motor yang dipermasalahkan sedang dalam proses karena pemiliknya wafat di bulan Februari 2019.

(dat/pojokjabar)

Loading...

loading...

Feeds