Alumni Pesantren Husnul Khotimah Minta Pelaku Dihukum “Jera”

Kedua pelaku penusukan santri berhasil diamankan. Ist/pojokjabar.com

Kedua pelaku penusukan santri berhasil diamankan. Ist/pojokjabar.com

POJOKJABAR.com, KUNINGAN– Alumni Pesantren Husnul Khotimah, Devi, angkat suara terkait tindakan premanisme yang menimpa seorang santri yang dibunuh di Jalan Kota Cirebon.

“Semua berduka,” ungkapnya kepada Pojokjabar.com saat dikonfirmasi, Ahad (8/9/2019).

Di kalangan alumni sendiri, lanjutnya, pihaknya mengecam tindakan tersebut.

“Bahkan ada beberapa alumni yang merekomendasikan untuk dibuatkan petisi. Karena tersangka masih berumur 18 tahun dan tidak bisa dipenjarakan secara HAM,” ujarnya perempuan beranak satu ini.

Apalagi, tambahnya, kalau melihat KUHP anak-anak tidak dapat dipidanakan.

Korban aksi premanisme di Cirebon

Korban aksi premanisme di Cirebon./Foto: Istimewa

 

“Paling tidak tersangka harus melalui proses peradilan anak, dan rehabilitasi, dan selanjutnya dipenjarakan ketika umurnya sudah layak,” katanya.

 

Kemudian, terangnya, petisi yang sudah dibuat dikirimkan ke Mahkamah Syariah Aceh.

“Agar benar-benar merasakan jera. Hukuman qisas,” usulnya.

Pihak kepolisiam menunjukannbaeang bukti sajam. Ist/pojokjabar.com

Pihak kepolisiam menunjukan barang bukti sajam. Ist/pojokjabar.com

 

Ini bisa menjadi teguran juga untuk yang lainnya, lanjutnya, terutama di wilayah Cirebon.

 

Berdasarkan rangkuman informasi Pojokjabar.com, kedua pelaku sekitar pukul 21.00 WIB dengan menggunakan sepeda motor menuju Jalan Kesambi Kota Cirebon.

Kemudian para pelaku menghampiri korban Zainul Majid dan Zulva Fuadi yang sedang berjalan kaki tepatnya di Apotik Pratama. Dengan modus yang sama pelaku mengatakan, “kamu yang mukulin teman saya, ya,”

Kedua pelaku penusukan santri berhasil diamankan. Ist/pojokjabar.com

Kedua pelaku penusukan santri berhasil diamankan. Ist/pojokjabar.com

 

Kemudian kedua korban, dipaksa ikut naik motor berboncengan empat orang, dan dibawa keliling menuju pesisir pinggir pantai.

Sesampainya di lokasi yang sepi, korban Zulva disuruh turun, sedangkan Zainul masih berada di sepeda motor dengan posisi disekap sambil menodongkan pisau pada bagian leher belakang sebelah kanan.

Pelaku kemudian memaksa Zulva menyerahkan barang berharganya, apabila menolak, korban akan dibunuh.

Di bawah ancaman korban akhirnya menyerahkan barang-barangnya berupa handphone, dompet warna coklat yang berisikan uang tunai, dan kartu ATM.

Selanjutnya, korban disuruh pulang oleh pelaku.

Kapolresta Cirebon AKBP Roland Ronaldy mengatakan usai mendapat laporan dari korban, pada hari Sabtu tanggal 7 September 2019 sekitar pukul 10.00 WIB, Tim Opsnal Polres Cirebon Kota, telah melakukan penyelidikan di sekitar TKP Trotoar Bank Mandiri Syariah.

“Selanjutnya setelah diketahui ciri-ciri pelaku, dikarenakan pelaku melakukan perampasan di TKP yang berbeda, yaitu di Apotik Pratama Jalan Kesambi dengan modus dan ciri-ciri pelaku yang sama,” tutupnya.

(mar/pojokjabar)

Loading...

loading...

Feeds