Lurah Argasunya Dorong Penambang Pasir Manual Alih Profesi

Lurah Argasunya Dudung Abdul Barry. Indra/pojokjabar

Lurah Argasunya Dudung Abdul Barry. Indra/pojokjabar

POJOKJABAR.com, CIREBON – Masih banyak mobil pengangkut pasir hilir mudik (keluar-masuk) di Jalan Kelurahan Argasunya Kecamatan Harjamukti, Kota Cirebon, menjadi pemandangan yang dianggap sudah biasa.

Padahal, konon aktivitas galian pasir ilegal telah disegel oleh pihak Kepolisian Kota Cirebon.

Namun, maraknya pencurian sumber daya mineral dari alam di Kota Cirebon tanpa izin menjadi ironi di tengah penegakkan hukum di Kota Wali.

Menurut Lurah Argasunya, Dudung Abdul Barry mengakui, masih banyaknya mobil pengakut pasir dari wilayah Argasunya, karena masih ada masyarakat yang melakukan aktivitas penggalian pasir secara manual.

“Masih ada masyarakat yang melakukan penambangan pasir, tapi manual,“ kata Dudung Abdul Barry Lurah Argasunya pada pojokjabar saat ditemui di kantornya, Rabu (17/7/2019).

Dudung berharap masyarakat bisa segera beralih profesi dari penambang pasir, karena baik pemilik tanah yang dijadikan lokasi tambang pasir memiliki tanggung jawab untuk menjaga alam.

“Kami akan mendorong agar masyarakat penambang beralih profesi, selain itu kami berharap pemilik lahan juga memiliki tanggung jawab untuk menjaga alam,” harapnya.

Dudung menambahkan, melihat topografi wilayah Argasunya, memiliki potensi untuk dijadikan obyek wisata di bekas galian pasir, namun perlu penataan dalam membuka akses jalan ke lokasi yang masih sulit untuk dilewati masyarakat umum.

“Sebetulnya wilayah kami memiliki potensi pariwisata alam di bekas lahan galian,” ujarnya.

Masih menurut Dudung, pihaknya bahkan telah mendapatkan pesan dari ulama yang bersedia untuk bersama-sama membuka wisata religi dengan syarat tidak menghilangkan budaya yang sudah ada dan harus lebih menguatkan tradisi yang dipegang kuat oleh masyarakat pesantren di Argasunya.

“Alim ulama setempat sudah bersedia membuka wisata religi, asalkan masyarakat pengujung harus menjaga budaya yang telah ada, contohnya saat akan berwisata ke wilayah pesantren harus sopan,“ ungkapnya.

Bahkan menurut Dudung, Kiai sepuh berpesan agar pihak pemerintah dapat menjaga lingkungan dari kerusakan akibat galian pasir yang masih terjadi di wilayah Kelurahan Argasunya.

“Alhamdulillah ada pesan dari Kiai sepuh agar kami menjaga alam agar tidak rusak,” tutupnya.

(ind/pojokjabar)

Loading...

loading...

Feeds