Budayawan Kritisi Tembok Pengganti, Ciri Khas Cirebon Hilang

Pejalan kaki sedang melintas di sebelah kiri atau utara hotel patra jasa cirebon. Indra/pojokjabar

Pejalan kaki sedang melintas di sebelah kiri atau utara hotel patra jasa cirebon. Indra/pojokjabar

POJOKJABAR.com, CIREBON – Ego sektoral terus saja dipelihara perusahaan raksasa perhotelan Patra Jasa Cirebon yang membuka usaha di ujung perbatasan Kabupaten Cirebon dengan Kota Cirebon.

Menurut Taufik (50), Budayawan dari Cirebon, menuturkan dirinya sangat menyangkan adanya penghancuran tembok yang sudah dibangun oleh Pemkab Cirebon.

“Kami sangat menyangkan penghancur tembok bentar milik Pemda Cirebon,” kata Taufik pada Pojokjabar.com saat ditemui di kediamannya di bilangan Cipeujeuh Kamarang, Kamis (11/7/2019).

Tampak depan Hotel Patra Jasa Cirebon. Indra/pojokjabar

Tampak depan Hotel Patra Jasa Cirebon. Indra/pojokjabar

Taufik berharap kedepan bangunan artistik budaya Cirebon tidak dirusak lagi oleh pihak swasta, selain itu untuk mempertahankan artistik bangunan Cirebon.

“Seyogyanya, pihak hotel harus membangunkan kembali tembok sesuai dengan yang sudah dibangun oleh Pemkab. Bilaperlu kedepan Budayawan dan Seniman dilibatkan dalam menjaga artistik budaya khas Cirebon,” tutupnya.

Sementara itu, Wahyudi (30) salah seorang warga Plumbon Kabupaten Cirebon, menuturkan sangat menyayangkan investor yang berinvestasi di Kabupaten Cirebon yang dengan telah sengaja menghilangkan suatu bangunan milik pemerintah Daerah Kabupaten Cirebon.

“Jelaslah kami masyarakat sangat menyayangkan, itu kan anggaran dari uang rakyat, masa dirusak dan menghilangkan bangunan yang berseni budaya Cirebon,“ kata Wahyudi.

Masih menurut Wahyudi, baiknya investor yang membangun usaha di Kabupaten Cirebon tidak menghilangkan seni budaya Cirebon.

“Ke depan seharusnya tidak terjadi lagi investor yang melakukan hal yang dilakukan oleh perusahaan seperti Patra Jasa Cirebon,” katanya.

Seharusnya, tambahnya, investor ikut mempertahankan budaya lokal agar semakin dikenal sebagai estetika yang indah.

“Kami berharap kedepan para investor yang ber-usaha di Kabupaten Cirebon mempertahankan seni budaya baik itu dari sisi bangunan budaya Cirebon, jika diperlukan duduk bareng antara pemerintah Daerah Kabupaten Cirebon, Investor, Budayawan dan media biar tidak ada ego sektoral,“ ujarnya.

Sebelumnya, Kasi Pemanfaatan Jalan dan Jembatan pada Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kabupaten Cirebon, Kusmadi menyatakan bahwa pihak management hotel patra jasa sudah kooperatif sebelum membongkar tembok yang telah ia bangun tersebut meminta izin terlebih dahulu kepadanya.

“Akhir tahun lalu, tepatnya bulan Desember tahun 2018 pihak management hotel meminta ke kami kaitan izin untuk membongkar tembok tersebut,” kata Kusmadi.

Setelah itu, lanjut Kusmadi, pada bulan Januari 2019, pihaknya melalui kepala dinas dan langsung ditandatangani memberikan rekomendasi atau memperbolehkan tetapi dengan syarat harus ada penggantian.

“Ganti rugi kami, ya pihak hotel harus membangunkan tembok sesuai dengan panjang dan tinggi yang telah kami buat kala itu. Kabarnya pihak hotel akan membangunkan tembok (ganti rugi, red) di sebelah kiri dari arah Kedawung,” tandasnya.

Namun, penelusuran pojokjabar.com dilapangan pihak hotel hingga saat ini masih belum membangunkan tembok sebagai ganti rugi yang dijanjikannya.

(ind/pojokjabar)

Loading...

loading...

Feeds