Puluhan Tahun Sungai Singaraja Belum di Normalisasi, Jembatan Rusak pun Dibiarkan

Jembatan Penghubung satu-satunya rusak 3 tahun lalu, warga berswadaya menopang dengan kayu kelapa di aliran sungai Singaraja Desa Leuwidinding. Indra/pojokjabar

Jembatan Penghubung satu-satunya rusak 3 tahun lalu, warga berswadaya menopang dengan kayu kelapa di aliran sungai Singaraja Desa Leuwidinding. Indra/pojokjabar

POJOKJABAR.com, CIREBON – Puluhan hektare areal pertanian sawah di Desa Leuwidinding sudah dikenal puluhan tahun subur dan tidak kekurangan air, namun kini para petani harus menerima kenyataan pahit dengan banyaknya mata air disepanjang aliran sungai Singaraja yang tertutupi sedimen (lumpur) yang mengakibatkan para petani tidak bisa lagi menanam padi 3 kali dalam setahun.

Seperti yang dituturkan Ono Suwaryono (50) Kepala Desa setempat yang mengaku prihatin dengan kondisi pertanian yang mengancam kesejahteraan para petani akibat tingginya biaya produksi pada saat musim tanam ketiga, dimana air sudah sangat sulit mengaliri ke areal pertanian padi, karena banyak mata air yang kini tertutupi sedimentasi disepanjang aliran sungai Singaraja.

“Pertanian sawah di Desa kami bisa tiga kali musim tanam, tapi sekarang petani harus susah payah dengan bantuan mesin pompa, padahal dulu banyak mata air disepanjang aliran sungai Singaraja, kedalaman airnya sedada orang dewasa, namun kini sebetis saja, akibat sedimentasi,” kata Ono Suwaryono Kuwu Leuwidinding pada pojokjabar saat ditemui di dekat Sungai Singaraja, Selasa (11/6/2019).

Ia mengaku sudah berkirim surat ke instansi terkait dalam hal ini Balai Besar Wilayah Sungai Cimanis Cisanggarung (BBWSCC) yang berwenang dalam penanganan permasalahan sungai, agar melakukan normalisasi disepanjang sungai Singaraja di Desanya, karena penting untuk kesejahteraan masyarakat petani sekaligus sebagai penanganan banjir di wilayah kecamatan Lemahabang yang setiap tahun menjadi langganan banjir.

“Kami sudah tiga kali berkirim surat selama 3 tahun berturut-turut, karena tidak hanya normalisasi yang ditunggu masyarakat petani, namun juga perbaikan sarana jembatan yang rusak akibat banjir besar 3 tahun lalu, namun hingga hari ini belum juga mendapatkan perhatian dari BBWSCC,” keluh Ono Suwaryono.

Masih menurutnya, kini di penghujung masa bhaktinya berharap pihak terkait dapat memperhatikan kondisi sungai singaraja yang sangat vital dalam keberlangsungan masyarakat petani, selain perbaikan jembatan penghubung, satu-satunya untuk mengangkut hasil pertanian masyarakat petani Desa Leuwidinding.

“Kami tidak berdaya, karena kewenangan normalisasi dan perbaikan jembatan ada di instansi lain,“ jelasnya.

(ind/pojokjabar)

Loading...

loading...

Feeds