Lawang Sanga Gapura Masuk Perhelatan Gotrasawala

Anak-anak sedang bermain di Lawang Sanga, situs masuknya tamu undangan dalam acara Gotrasawala. Alwi/pojokjabar

Anak-anak sedang bermain di Lawang Sanga, situs masuknya tamu undangan dalam acara Gotrasawala. Alwi/pojokjabar

POJOKJABAR.com, CIREBON – Simposium kuno Gotrasawala kini menjadi bagian sejarah terpenting kerajaan Cirebon. Karena di forum itu puluhan bahkan ratusan kerajaan dari Nusantara dan dunia berkumpul. Disana mereka membincangkan berbagai persoalan. Dimulai sejarah, budaya, dan juga politik ekonomi.

Gotrasawala dihelat pada 1677 Masehi. Inisiator acara tersebut Pangeran Wangsakerta atau Pangeran Arya Carbon. Pangeran Wangsakerta merupaka anak ketiga dari Pangeran Girilaya, raja ketujuh Kesultanan Cirebon. Dia dikenal sebagai penulis naskah-naskah kerajaan Cirebon. Paling terkenal naskah-naskahnya yakni Negara Kertabumi (1680) dan Caruban Nagari (1720).

Bagian belakang Lawang Sanga. Pintu-pintu ini tempat menyambut raja-raja dan tamu undangan Gotrasawala. Alwi/pojokjabar

Bagian belakang Lawang Sanga. Pintu-pintu ini tempat menyambut raja-raja dan tamu undangan Gotrasawala. Alwi/pojokjabar

Di RT 09 RW 02 Kampung Mandalangan, Kelurahan Kasepuhan, Kecamatan Lemahwungkuk, sisa-sisa dari perhelatan Gotrasawala ditemukan. Berbentuk sebuah bangunan warna putih dengan banyak pintu di berbagai sisi. Bangunan tersebut namanya Lawang Sanga. Arsiteknya juga Pangeran Wangsakerta.

Lawang Sanga memiliki atap segitiga. Ujungnya runcing. Lawang Sanga mirip pos penjagaan, karena bangunannya kecil dan tidak memiliki ruangan. Keseluruhan bangunan dicat menggunakan warna putih. Namun karena pengaruh alam juga musim, kini warna putih tersebut buram dan kotor. Tampak kurang perhatian.

Paling menarik dari Lawang Sanga adalah dua patung macan sebagai penjaga. Konon patung macan tersebut memiliki penghuni, namanya Raden Rasa dan Raden Rasul. Rade Rasa di patung macan sebelah kanan, dan Raden Rasul di patung macan sebelah kiri. Keduanya merupakan penjaga dari Lawang Sanga.

Dua patung macan penjaga Lawang Sanga. Dari kanan bernama Raden Rasa dan dari kiri Raden Rasul. Alwi/pojokjabar

Dua patung macan penjaga Lawang Sanga. Dari kanan bernama Raden Rasa dan dari kiri Raden Rasul. Alwi/pojokjabar

“Waktu zaman Pangeran Wangsakerta, yaitu digunakan sebagai pelabuhan dan pintu masuk di Keraton Pakungwati. Yang saat itu rajanya bernama Syamsudin Martawijaya, atau bergelar Sultan Sepuh I. Raja memiliki seorang putra, yaitu Pangeran Angkawijaya,” ujar Suwari (72), juru kunci situs Lawang Sanga, saat ditemui pojokjabar.com di lokasi, Minggu (19/5/2019).

Menurut naskah Negara Kertabumi, bangunan tersebut sengaja dibuat Pangeran Wangsakerta untuk menyambut tamu agung wakil-wakil raja dalam acara Gotrasawala. Di bangunan tersebut juga raja-raja atau tamu undangan disambut, dan dipersilakan masuk ke Keraton Cirebon dengan dikawal para pasukan kerajaan Cirebon.

“Setelah mereka masuk Lawang Sanga, selanjutnya menuju Bangsal Pringgondani. Pringgondani ada di dalam di Keraton Kasepuhan. Ketika mereka sudah di sana, selanjutnya ngobrol-ngobrol dan berbincang tentang perdagangan dan juga rempah-rempah. Lawang Sanga ada karena memang dibuat untuk infrastruktur Gotrasawala, waktu itu,” tutur pria kelahiran 1947 tersebut.

Lawang Sanga, kini telah menjadi bangunan cagar budaya. Lokasinya di belakang keraton Kasepuhan. Bagian depan dari situs tersebut, mengalir sebuah sungai bernama Kali Kriyan. Tiap bulan Asyura atau tahun baru Islam di situs tersebut mengadakan ritual atau syukuran, sebagai peringatan kepada Pangeran Wangsakerta.

(alw/pojokjabar)

Loading...

loading...

Feeds