Mengintip Sejarah Panjunan, Kampung Arab Cirebon

Jalan Panjunan, area orang-orang Arab di Cirebon. Alwi/pojokjabar

Jalan Panjunan, area orang-orang Arab di Cirebon. Alwi/pojokjabar

POJOKJABAR.com, CIREBON – Dalam literatur sejarah Cirebon, orang Arab pertama kali datang ke Cirebon yakni Syarif Abdurrahman. Ia datang ke Cirebon sekitar abad ke-15. Syarif Abdurrahman datang dari wilayah timur tengah untuk mengembara dan juga berdagang. Selain itu juga menyebarkan agama Islam.

Ketika ia datang ke Cirebon, Syarif Abdurrahman langsung menghadap ke Sunan Gunung Jati. Sang Sunan merupakan seorang raja, di bumi Sarumban dengan gelar Panatagama Awlya Allah Kutubid Jaman Khalifatur Rasulullah. Gelar tersebut merupakan pemberian untuknya karena penyebar agama Islam di tanah Jawa.

Syarif Abdurrahman pun menghadap. Ia diberi izin oleh Sunan Gunung Jati, untuk berdagang dan menyebarkan Islam di tanah Caruban. Kemudian saat itu ia ditunjuk ke suatu wilayah yakni Panjunan untuk menetap di sana. Akhirnya Syarif Abdurrahman pun berdiam di sana.

Jalan Panjunan yang  kini dipenuhi toko-toko elektronik. Alwi/pojokjabar

Jalan Panjunan yang kini dipenuhi toko-toko elektronik. Alwi/pojokjabar

Selain kepentingan berdagang dan siar agama Islam, akhirnya memudahkan komunikasi sesama bangsanya Syarif Abdurrahman membuat suatu kelompok atau komunitas. Kelompok atau komunitas tersebut yang kini banyak diketahui orang sebagai Panjunan. Panjunan di Cirebon merupakan pusat atau perkampungan orang-orang Arab.

“Jadi Panjunan itu dulunya orang-orang Arab yang ada di Cirebon. Karena Cirebon saat itu menjadi jantungnya aktivitas ekonomi dunia khususnya perairan atau jalur pantai. Dulu juga di Cirebon ada pelabuhan namanya Muara Jati. Pelabuhan tersebut skalanya internasional,” kata Nurdin M Noer, pemerhati sejarah Cirebon, Rabu (15/5/2019).

Seiring berjalannya waktu, Panjunan tersebut berubah menjadi suatu masyarakat yang bercampur dengan penduduk lokal. Di Panjunan juga banyak ditemukan orang-orang Arab dan sampai kini mereka berprofesi sebagai pedang. Hanya saja, kini tidak banyak berjualan identik dengan kearaban tapi barang-barang elektronik ataupun kendaraan.

“Jadi kalau ingin melihat bukti sejarah Cirebon dipengaruhi oleh Arab, ya Panjunan. Dulu ini menjadi kelompok atau komunitas orang-orang Arab saat ada di Cirebon berdagang, dan menyebarkan agama Islam,” jelas Nurdin.

Kampung yang sekarang menjadi jalan di wilayah Lemahwungkuk ini. Orang-orang Arab masih ditemukan dan mereka beraktivitas dengan penduduk lokal. Mereka juga profesinya beragam tapi kebanyakan di daerah tersebut menjadi seorang penjual atau pengusaha. Kebanyakannya juga mereka penjual barang-barang elektronik dan juga usaha minyak wangi.

(alw/pojokjabar)

Loading...

loading...

Feeds