Masjid Jagabayan, Pos Penjagaan Keraton Pakungwati dari Berbagai Serangan

Pintu masuk Masjid Jagabayan. Alwi/pojokjabar

Pintu masuk Masjid Jagabayan. Alwi/pojokjabar

POJOKJABAR.com, CIREBON – Abad ke-15 Kota Cirebon masih dipenuhi banyak pepohonan. Sebagian wilayahnya hutan belantara dan belum banyak aktivitas manusia. Saat itu Keraton Pakungwati berdiri, sebagai cikal bakal kerajaan atau kesultanan Islam di Cirebon.

Keraton Pakungwati didirikan Pangeran Cakrabuana. Raja pertama yaitu Sunan Gunung Jati. Sunan menjadi raja ketika baru pulang dari tanah suci menunaikan ibadah haji. Ia ke Cirebon pamit kepada ibu dan ayahnya, yang saat itu menjadi permaisuri dan raja Mesir.

Masjid Jagabayan tampak dalam. Alwi/pojokjabar

Masjid Jagabayan tampak dalam. Alwi/pojokjabar

Sunan Gunung Jati pun pergi meninggalkan ayah-ibunya di Mesir. Dari Mesir ke Cirebon hanya untuk menjenguk uwaknya Pangeran Cakrabuana, dan juga untuk penyebaran agama Islam. Saat itu ia banyak belajar ilmu agama, dari ulama Mesir di sana.

Setibanya di Cirebon Sunan Gunung Jati langsung diangkat uwaknya, Pangeran Cakrabuana, menjadi raja Pakungwati. Sunan Gunung Jati pun memiliki otoritas kekuasaan, untuk mendirikan pemerintahan dan tata sosial masyarakat di dalamnya. Selain menjadi raja, Sunan Gunung Jati juga sebagai ulama.

Sesudah sang Sunan menjadi raja, selanjutnya membuat pos-pos pertahanan atau mata-mata dari serangan musuh. Pos-pos tersebut salah satunya dibuat sebelah utara Keraton Pakungwati, yakni di area Jagabayan. Jagabayan saat ini dijadikan nama masjid di Jalan Jagabayan, Kota Cirebon.

“Masjid Jagabayan ini awalnya bukan tempat ibadah, yakni sebuah pos jaga untuk mempertahan Keraton Pakungwati dari serangan musuh, atau juga marabahaya. Yang jaga posnya juga Pangeran Jagabayan,” ujar Akhmad Tajudin, ketua DKM Musala Jagabayan, Rabu (15/5/2019).

Seiring perjalanan waktu, selain menjadi pos jaga, juga menjadi tempat ibadah untuk salat. Saat tempat penjagaan tersebut terbiasa dijadikan tempat ibadah, maka ketika itu berubahlah fungsi menjadi masjid. Hingga saat ini, pos jaga tersebut telah menjadi bangunan tempat ibadah masjid.

“Jadi setelah Sunan Gunung Jati menjadi raja Keraton Pakungwati, beliau itu mendirikan pos-pos untuk pengamanan. Nah, salah satu posnya ini, Jagabayan, yang kini telah menjadi masjid,” jelas Tajudin, menceritakan kronologi sejarah Masjid Jagabayan.

Hingga saat ini, masjid tersebut masih memiliki bangunan masih asli di antaranya momolo, pengimaman dan kayu-kayu. Juga masjid tersebut memiliki sumur di sebelah kiri, konon masyarakat setempat dan sekitar memercayai airnya bisa menjadi media penyembuhan berbagai penyakit.

Sumur Masjid Jagabayan, masyarakat sekitar memercayai airnya bisa menjadi obat segala penyakit. Alwi/pojokjabar

Sumur Masjid Jagabayan, masyarakat sekitar memercayai airnya bisa menjadi obat segala penyakit. Alwi/pojokjabar

“Sumurnya itu masih asli. Bahkan tiapkali musim kemarau tidak pernah kering. Tiap Jumat Kliwon juga banyak masyarakat sekitar atau setempat mengambil air tersebut untuk mengambil keberkahan. Keberkahan dari Pangeran Jagabayan,” pungkas Tajudin.

Masjid Jagabayan, kini bisa ditemui di Jalan Karanggetas Kota Cirebon, Kelurahan Lemahwungkuk, Kecamatan Lemahwungkuk. Lokasinya juga sebelah kiri sebelum lampu merah Jalan Pulasaren.

(alw/pojokjabar)

loading...

Feeds