Aneh, Populasi Penduduk Desa di Cirebon Selalu Stagnasi, Fenomena Apa Ya?

Ilustrasi populasi penduduk

Ilustrasi populasi penduduk

POJOKJABAR.com, CIREBON – Anda mungkin tidak percaya jika di salah satu wilayah Kabupaten Cirebon terdapat salah satu desa yang selalu diselimuti misteri.

Pojokjabar.com mencoba menguak informasi tersebut, tentang keanehan yang sering dialami oleh masyarakat Desa Wilulang, Kecamatan Susukanlebak, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat.

Jumlah populasi masyarakat desa setempat tidak bisa bertambah dan berkembang pesat.

Konon menurut cerita masyarakat sini, jika ada kelahiran bayi maka akan ada pula kematian.

Sehingga jumlah penduduk masyarakat yang bermukim di Desa Wilulang tidak berkembang.

Stagnasi jumlah penduduk Wilulang bukan menjadi rahasia di Kecamatan Susukanlebak.

Hal tersebut dibeberkan Sekretaris Desa WilulangEla Julaeha.

Pihaknya menyatakan stagnasi jumlah penduduk Desa Wilulang sudah sejak lama terjadi.

Bahkan, katanya, melalui perkawinan pun tidak memberikan efek yang signifikan pada penambahan jumlah penduduk.

“Kami juga heran kenapa jumlah penduduk tidak bisa melewati jumlah ribuan, padahal banyak perkawinan antara desa, data termutakhir saat ini populasi penduduk di angka 994 jiwa,” kata Ela Julaeha, Rabu (20/3/2019).

Ela mengatakan, jumlah penduduk yang ada saat ini tidak jauh berbeda dalam kurun waktu berberapa tahun sebelumnya.

Jumlah tertinggi di angka 1.004 jiwa, namun di bulan selanjutnya turun lagi seperti sekarang ini hanya 994 jiwa.

“Menurut data yang kami milik terdapat 300 rumah berdiri dengan jumlah kurang seribu jiwa yang menetap di Desa Wilulang. Masyarakatnya bermata pencaharian sebagai petani, dan untuk luas kewilayahan Desa Wilulang seluas 58 hektar, mayoritas lahan pertanian sawah,” jelasnya.

Sementara itu Kuwu Wilulang Iyoy Sonjaya pada Pojokjabar.com, pihaknya mengakui keanehan yang terjadi di Desa yang dipimpinnya saat ini.

Hal ini karena selama beberapa dekade jumlah populasinya tidak pernah berkembang pesat.

“Fenomena ini sulit dibantah, di sini program KB tidak diutamakan, namun angka kelahiran dan kematian selalu seimbang, misalkan ada kelahiran 6 bayi, maka pada tahun yang sama juga terjadi kematian, sehingga populasinya stagnan,” akunya.

(ind/pojokjabar)

loading...

Feeds