Reruntuhan Pabrik Gula Gempol: Kisah Ekonomi Tebu dan Perlawanan Rakyat-Santri Cirebon

Kantor Pabrik Gula Gempol./Foto: Alwi

Kantor Pabrik Gula Gempol./Foto: Alwi

POJOKJABAR.com, CIREBON– Pabrik Gula Gempol di Palimanan, Kabupaten Cirebon, kini tinggal puing-puing. Reruntuhannya dapat dilihat di semua bangunan area pabrik. Pabrik tersebut berdiri pada 1847. Angkanya ditemukan pada muka tembok salah satu gedung.

Pada gedung pabrik tersebut, semua bergaya kolonial. Bahkan, didirikan juga oleh bangsa kolonial guna memanfaatkan ladang pertanian di komoditas tebu. Karena Wilayah III Cirebon, khusus Majalengka dan wilayah Timur Cirebon, komoditas tebu paling potensial.

Permulaan 1850 produksi gula di Cirebon meningkat. Bahkan 1854, di daerah Karangsuwung, Kecamatan Karangsembung, berdiri pabrik serupa. Keberadaannya di Karangsuwung, yakni didirikan NV Maatchappij tot Expoitaite der Suiker Onderneming, sebuah perusahaan gula milik pemerintah Belanda.

“Saat itu, gula sedang jaya-jayanya yang dimanfaatkan oleh pemerintah Hindia-Belanda,” ujar Sejarawan Cirebon, Raffan S Hasyim, saat menceritakan, Minggu (17/2/2019).

Menutur Raffan, pabrik gula di Karangsuwung sangat terawat. Kondisinya bersih dan utuh segala bangunan mulai dari gedung produksi, kantor dan mess atau tempat tinggal pimpinan karyawan atau direksi perusahaan.

Gedung pabrik gula Gempol

Gedung Pabrik Gula Gempol,, pada muka tembok bagian atasnya tertulis 1847./Foto: Alwi

 

Tidak di pabrik gula Gempol, keseluruhan bangunan semuanya hampir roboh dan menjadi puing, serta dijalar beberapa tumbuhan semak belukar. Bahkan, pubrik berlokasi sebelah selatan perempatan lampu merah Palimanan tersebut, kini terlihat angker juga menyeramkan.

Menengok keberadaannya yang kini telah jadi puing dan reruntuhan yang berserak di lokasi, ternyata pabrik gula Gempol saat dulu menyimpan kisah bagi masyarakat sekitarnya. Kisah tersebut menjadi tradisi tutur yang mudah digali lewat cerita.

loading...

Feeds