Pelabuhan Cirebon, Saksi Bisu Hijrah Pasukan Siliwangi ke Yogyakarta

Foto menjelaskan pasukan Siliwangi saat di Pelabuhan Cirebon untuk melakukan hijrah menuju Yogyakarta. Alwi/pojokjabar.com

Foto menjelaskan pasukan Siliwangi saat di Pelabuhan Cirebon untuk melakukan hijrah menuju Yogyakarta. Alwi/pojokjabar.com

POJOKJABAR.com, CIREBON- Pada perang kemerdekaan Indonesia ke-II, tepatnya pada tahun 1948 tentara Siliwangi takluk pada Perjanjian Renville.

Perjanjian Renville merupakan titik balik dari penghentian tindakan saling serang antara pejuang Indonesia dengan tentara militer Belanda.

Terjadi di pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, perjanjian tersebut berlangsung. Di antara isi perjanjian tersebut tentara Siliwangi harus meninggalkan kantong-kantong gerilya.

“Kantong-kantong gerilya itu dimaksudkan wilayah yang dikuasai devisi Siliwangi,” ujar pengamat sejarah Cirebon, Mustaqim Asteja, Minggu (25/11/2018).

Ada beberapa daerah yang menjadi kantong-kantong gerilya waktu itu. Di antaranya, adalah Bandung dan Cirebon. Namun, Cirebon menjadi pusat paling strategis karena memiliki pelabuhan dan gunung.

“Di antara periode 1946 sampai 1949, gunung menjadi tempat persembunyian para pejuang dan melakukan sabotase terhadap tentara militer Belanda,” kata Mustaqim.

Hingga 1948, lewat Dewan Keamanan PBB akhirnya tentara militer Belanda dengan para pejuang dimediasi dan menghasilkan sebuah keputusan.

“Keputusannya itu adalah Perjanjian Renville. Terjadi pada 17 Januari 1948 di Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta,” sambung Mustaqim.

Mustaqim menjelaskan, selain secara de vacto tentara Belanda harus mengakui kedaulatan negara Indonesia, para pejuang Indonesia juga harus mengakui peninggalan kantong-kantong gerilya merupakan sterilisasi dari tindakan saling serang keduanya.

“Akhirnya, dalam salah satu poin isi perjanjian itu, Devisi Siliwangi atau para pejuang meninggalkan wilayah-wilayah penguasaan di antaranya Cirebon,” ungkapnya.

Dan, kata pendiri Komunitas Kendi Pertula tersebut, peristiwa itu disebut “hijrah” karena para pejuang atau Devisi Siliwangi melakukan long march menuju Yogyakarta.

“Saksi bisunya adalah pelabuhan Cirebon. Di sana ratusan pejuang atau Devisi Siliwangi diangkut karena Perjanjian Renville,” jelasnya.

Pelabuhan Cirebon, kini di balik fungsinya sebagai akses keluar masuk kapal-kapal pengangkut barang, ternyata menyimpan peristiwa sejarah yang patut dikenang dan jadikan pelajaran sebagai nilai patriotisme dan nasionalisme.

(alw/pojokjabar)

loading...

Feeds