Booking Perempuan Cantik Ayam Kampus di Cirebon Mulai Ratusan Ribu

prostitusi di hotel (ilustrasi)

prostitusi di hotel (ilustrasi)

POJOKJABAR.com, CIREBON– Seorang perempuan cantik mantan pelaku ayam kampus membeberjkan soal tarif atau biaya memesan (booking) ayam kampus.

Mahasiswi salah satu kampus swasta Cirebon ini mengungkapkan Rp 700 ribu sekali kencan.

“Aslinya harga segitu. Tapi kan biasanya ayam kampus itu pasti punya mucikari. Jadi mucikari itu kalau mencari ‘mangsa’ nawarnya satu juta. Nah, kalau orang yang paham, pasti satu juta itu terlalu mahal,” lanjutnya menerangkan.

Baca: Perempuan Cantik Pernah Jadi Ayam Kampus di Cirebon, Beberkan Kehidupannya

 

Mengenai tempat untuk lakukan hubungan badan, Tania menjelaskan para ayam kampus mintanya kamar hotel.

“Pasti hotel. Dan mereka tidak mau tempat-tempat yang tidak aman,” sebutnya.

Kamar hotel tersebut, ungkap Tania, harus dibayar oleh para hidung belang. Dan itu pun, kata perempuan kelahiran 1991 tersebut, belum hitung uang jika ingin makan atau pun minum di luar.

“Yang soal itu (makan-minum) perlulah. Makannya yang boking para ayam kampus itu, kebanyakan orang-orang atau lelaki berduit,” terangnya.

“Jadi kalau misalnya ingin ayam kampus, cukup dengan 1 juta 500 ribu. 700 untuk bayar tarifnya, 400 buat sewa kamar hotel dan 400 untuk keperluan makan dan minum di luar,” pungkasnya.

Sebelumnya diberitakan, seorang mantan pelaku ayam kampus atau pelerja seks komersil (PSK), Gani Tania (bukan nama asli) 27 tahun, membocorkan harga tarif sekali kencan ayam kampus di Cirebon.

Gani Tania kini sudah berhenti berkarir di dunia gelap tersebut, kepada Pojokjabar.com, ia mengungkapkan dua tahun dirinya malang melintang.

“Saya kini sudah fokus pada kuliah. Persoalan itu, sudah saya tinggalkan. Tapi jika saya cerita bab-bab gituan, saya bisa jelaskan. Tapi tolong identitas saya ditutupi,” pintanya, saat awal pembicaraan, Senin (19/11/2018) malam.

Tania pun lalu mengungkapkan, persoalan ayam kampus jika diungkap lebih dalam menurutnya banyak dugaan yang tidak disangka.

“Kebanyakan, mereka itu mengikuti tren. Karena dunia perempuan dekat dengan materi, jadi yang tidak kuat iman, maaf, bisa terjerumus dalam dunia itu,” kata Tania.

 

(alw/pojokjabar)

loading...

Feeds