Pengurus Wihara Budi Sejati Arjawinangun Beberkan Sejarah Panjang Tionghoa di Cirebon

Wihara Budi Sejati menjadi saksi penyebaran warga Tionghoa di Arjawinangun sehingga terjadi akulturasi budaya. Tampak pelajar tengah melintasi wihara./Foto: Radarcirebon

Wihara Budi Sejati menjadi saksi penyebaran warga Tionghoa di Arjawinangun sehingga terjadi akulturasi budaya. Tampak pelajar tengah melintasi wihara./Foto: Radarcirebon


POJOKJABAR.com, CIREBON– Sejarah Tionghoa di Cirebon cukup panjang. Tersebar di beberapa kawasan yang membentuk kampung pecinan.  Mereka awalnya sejak datang ke Cirebon berada di wilayah pesisir. Namun, lambat laun kemudian tersebar ke pelosok-pelosok. Di Cirebon, kawasan pecinan yang masih terlihat itu ada di wilayah Arjawinangun.

Salah satu pengurus Wihara Budi Sejati Arjawinangun, Taskim menyebutkan, kini sudah terjadi akulturasi dan asimiliasi warga Tionghoa. Hal itu juga ditunjukan dengan adanya saling toleransi antar pemeluk agama. Lokasi wihara juga berdekatan dengan tempat ibadah masjid dan gereja yang ada dalam satu ruas jalan.

“Apabila dilihat dari bangunan Wihara Budi Sejati yang terletak di Jalan Kantor Pos Arjawinangun diperkirakan sudah berdiri seratusan tahun lalu. Bangunan wihara sudah mengalami peruhaban. Wihara itu juga menjadi saksi sejarah kawasan pecinan juga ada di Arjawinangun,” tuturnya.

Awalnya, kata Taskim, warga Tionghoa yang berdagang di Pasar Arjawinangun, tidak memiliki tempat sembahyang. Untuk sembahyang mereka beribadah di rumahnya masing-masing. Kemudian, komunitas Tionghoa mengumpulkan dana untuk membangun tempat sembahyang. Hingga akhirnya berdiri Klenteng tersebut.

Perkembangan zaman membuat umat di klenteng tersebut, kini hanya menyisakan beberapa saja. Generasi Tionghoa banyak yang berpindah sembahyang ke gereja. Apalagi setelah adanya pembangunan gereja tepat di depan klenteng. Membuat warga Tionghoa yang beribadah di klenteng semakin sepi.

“Sekarang sepi hanya ada satu atau dua orang itu juga dari luar daerah. Biasanya dari klenteng-klenteng lain di Cirebon, Indramayu, Bandung, Jakarta yang sengaja datang ke sini untuk ibadah,” kata Taskim.

Hanya saat, imlek saja kondisi klenteng lumayan ramai. Itu lantaran banyak sanak keluarga yang datang dan beribadah ke sini. “Orang-orangnya pindah, pengurusnya juga udah masuk gereja. Setelah itu udah gak masuk lagi klenteng,” ujarnya lagi.

Tak seperti klenteng tua yang lainnya yang terdapat di Cirebon, bangunan Wihara Budi Sejati tidak memiliki arsitektur yang unik. Itu lantaran bangunan klenteng sendiri dulunya adalah sebuah rumah. “Hanya kong cho aja yang masih asli, itu dari sejak dari dulu,” kata Taskim.

Bangunan kelenteng juga sudah beberapa kali direnovasi. Hanya ada dokumen foto-foto pengurus zaman dulu yang terpajang di dalam klenteng. “Orang-orang tuanya sudah banyak yang meninggal, sementara anak-anaknya gak sembahyang lagi ke klenteng,” ucapnya.

(jml/RC/pojokjabar)

 

Loading...

loading...

Feeds