9 Kali Lonceng Dibunyikan, Ritual Panjang Jimat di Keraton Kanoman Dimulai, Apa Maknanya?

Pembacaan Maulid yang merupakan rangkaian acara pada Tradisi Panjang Jimat di Keraton Kanoman. Panjang Jimat sendiri memiliki arti yang luas dan mempunyai pesan dakwah dalam penyebaran Islam di tanah Caruban (Cirebon).

Pembacaan Maulid yang merupakan rangkaian acara pada Tradisi Panjang Jimat di Keraton Kanoman. Panjang Jimat sendiri memiliki arti yang luas dan mempunyai pesan dakwah dalam penyebaran Islam di tanah Caruban (Cirebon).

POJOKJABAR.com, CIREBON – Ritual Panjang Jimat memiliki prosesi yang khas. Kepulan asap kemenyan bertambah tebal pada Langgar Alit Keraton Kanoman ketika para Kemantren (abdi dalem) terus menaburi serbuk pada bara yang menyala di atas tungku.

Wangi aroma kemenyan menjadi khas ketika bunga-bunga yang terserak di lantai menguar aroma keharuman bagi siapa saja yang masuk, pada tempat penyimpanan jimat-jimat tersebut.

Tidak hanya itu, sebelumnya puluhan laki-laki berbusana jubah hijau yang sejak tadi membacakan shalawat di Langgar Alit, bertambah khidmat acara pelal Panjang Jimat yang berlangsung di Jinem, Keraton Kanoman.

Panjang Jimat sendiri, menurut juru bicara Keraton Kanoman, Ratu Raja Arimbi Nurtina memiliki arti peringatan kelahiran Rasulullah SAW.

Sejarah dari prosesi Panjang Jimat ini, menurutnya memiliki kaitan dengan awal mula kehadiran Islam di tanah Caruban atau Cirebon.

“Panjang adalah iring-iringan ritual Panjang dengan disertai benda pusaka yakni piring panjang yang dianalogikan sebagai tempat makan gusti rasul. Piring panjang itu adalah pemberian dari seorang pendeta Buda Parwa kepada Pangeran Cakrabuana sewaktu berguru mencari agama Islam,” ungkap Ratu Raja Arimbi, Juru Bicara Keraton Kanoman saat diwawancarai Pojokjabar di ruang Witana pada Jum’at (1/12/2017) malam.

WhatsApp Image 2017-12-02 at 02.17.21

WhatsApp Image 2017-12-02 at 02.17.24

WhatsApp Image 2017-12-02 at 02.17.29

Dilanjutkan Ratu Arimbi, setelah Pangeran Cakrabuana mendapat petunjuk dari Pendeta Buda Purwa, selanjutnya Pangeran Cakrabuana  bertemu Syekh Idhofi atau Syekh Nurjati dan belajar agama Islam.

“Dan berkat petunjuk pendeta itu, Pangeran Cakrabuana bertemu Syekh Idhofi Mahdi atau Syekh Nurjati di Gunung Jati kemudian belajar Islam secara totalitas di sana,” sambung ibu dua anak ini.

Selain itu, dirinya juga menjelaskan, sejarah Islam dan tradisi Panjang Jimat berkaitan, serta ritual berakhir pada 5 Desember 2017 ini memiliki makna yang terus dipertahankan sebagai tradisi yang wariskan leluhur Keraton Kanoman.

“Panjang secara bentuk berarti piring. Jimat singkatan dari diaji dan rumat, yang artinya dipelajari dan dipelihara sepanjang masa. Dalam piring (Panjang) sendiri terdapat beberapa tulisan yang mengandung nilai ajaran Islam yang harus menjadi Jimat (diaji dan dirumat) oleh segenap pemeluk Islam sebagai tujuan dari perayaan tahunan Maulid Nabi Muhammad SAW,” jelasnya.

Sementara itu, menurut salah satu Kemantren (abdi dalem) Panjang Jimat, menyebutkan sebelum dibuka prosesi Panjang Jimat terlebih dahulu dibunyikan lonceng Gajah Mungkur, sebanyak 9 kali sebagai tanda dimulainya prosesi.

“Lonceng dibunyikan dulu baru jimat-jimat pada keluar pada saat jam 9 malam. Nama lonceng dibunyikan tersebut Gajah Mungkur,” terang Rusmana (52), seorang Kemantren atau Prajurit Keraton Kanoman.

 

(alw/pojokjabar)

Loading...

loading...

Feeds