Karena Ini Buruh PT Fasic Cianjur Kepung Perusahaan

PROTES: Masa buruh PT Fasic di Sukaluyu menggelar aksi unjukrasa menuntut tindakan pemberhentian karyawan secara sepihak yang dilakukan oleh perusahaan.

POJOKJABAR.com, CIANJUR – Ratusan masa anggota Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) PT Fasic Indonesia berunjukrasa dan mengepung lokasi perusahaan PT Fasic di Jalan Raya Bandung, Desa Selajambe, Kecamatan Sukaluyu Selasa (9/2/2016).

Aksi unjukrasa ratusan massa itu dilatarbelakangi tuntutan kejelasan alasan pemberhentian secara sepihak beberapa orang karyawan PT Fasic Indonesia.

Berdasarkan informasi, ada tiga buruh yang dikeluarkan tanpa alasan yang jelas. Masing-masing bernama Devi, Ria yang absen selama dua hari karena sakit dan Deny yang diberhentikan karena habis kontak.

Bahkan, pihak perusahaan melakukan penekanan dan intimidasi, terkait dengan aktivitas mereka dengan perserikatan pekerja. Penekanan dan intimidasi ini yang kemudian memicu massa buruh untuk meminta penjelasan.


Menurut Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) SPSI Kabupaten Cianjur, Hendra Malik, pemberhentian secara sepihak oleh pihak perusahaan jelas merupakan salah satu strategi pihak perusahaan dalam mempertahankan kewenangan yang mengkebiri hak-hak pekerja.

Padahal, menurutnya, hak-hak pekerja sudah ditetapkan oleh aturan ketenagakerjaan.

“Ya, sesuai amanah Undang-undang Nomor 13 Tahun 2003,” kata Hendra.

Aksi unjukrasa ini dikawal aparat kepolisian hingga selesai digelar. Tuntutan dan orasi disampaikan dengan tertib, namun sayangnya pihak perusahaan tidak bisa menerima mediasi mengenai persoalan tersebut, meskipun pihak Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kabupaten Cianjur turut hadir memfasilitasi massa buruh.

Hendra dan rekan-rekannya menekankan bahwa sesuai dengan anjuran Disnaker, perusahaan seharusnya mengikuti Undang-undang yang berlaku, dan mengakui keberedaan serikat pekerja, bukannya mengintimidasi aktivitas karyawan di serikat tersebut.

“Ini selalu terjadi dalam sejarah serikat pekerja dimanapun. Praktek union busting ini dilakukan pengusaha dalam berbagai bentuk, menghalang-halangi pengurus serikat pekerja, kampanye anti serikat pekerja, melakukan mutasi, sampai melakukan PHK (Pemutusan Hubungan Kerja—red) dengan berbagai cara terhadap pekerja,” terangnya.