Hama Ulat Serang Perkebunan Teh

HAMA: Seorang pemetik daun teh berburu hama ulat.
HAMA: Seorang pemetik daun teh berburu hama ulat.
HAMA: Seorang pemetik daun teh berburu hama ulat.

POJOKJABAR.id, CIANJUR– Sejumlah pemetik daun teh alih profesi menjadi pemburu ulat. Menyusul lahan perkebunan teh di Pasir Sarongge, Desa Ciputri, Kecamatan Pacet diserang hama ulat.

Kaur Pembangunan Desa Ciputri Hasanudin menjelaskan, sejak kekeringan melanda kawasan Pacet hama ulat terus merusak tanaman teh. Akibatnya, para buruh pertanian beralih pekerjaan menjadi pemburu hama ulat.

“Saat ini hama ulat semakin meluas,” jelasnya.

Menurutnya, penanganan hama sudah dilakukan dengan beberapa cara, seperti disemprot menggunakanobat anti hama. Agar hama ulat tidak menjamur.


“Perusahaan merugi karena daun teh tidak bisa dipanen. Satu kilogram hama ulat dibayar Rp 25 ribu per kg,” tuturnya.

Dikatakannya, meskipun lahan perkebunan gagal panen pengamanan tetap dilakukan bahkan lebih diperketat. karena dikhawatirkan masyarakat merambah lahan perkebunan teh, untuk mencari ranting untuk kayu bakar.

“Malam hari dijaga enam orang dan siang hari dijaga enam orang,” katanya.

Dijelaskannya, kondisi seperti ini sudah berjalan selama empat bulan lalu namun kondisinya kini semakin parah. Bahkan, jika dilihat lebih parah tahun ini ketimbang tahun kemarin.

“Kami hanya bisa berharap kondisinya bisa normal kembali, karena sekitar 70 orang warga kami mengandalkan pekerjaan menjadi buruh perkebunan teh,” pungkasnya.

Siti (41) warga Desa Ciputri mengaku, sejak kekeringan panjang melanda kawasan Ciputri, dirinya terpaksa berburu ulat.

“Uang yang didapatkan jelas lebih kecil daripada kondisi normal. Lantaran berburu ulat itucukup sulit,” ungkapnya.(fhn/dep)