Awas Permainan Harga Kedelai

Harga kedelai yang mengalami kenaikam secara bertahap menyusul anjloknya nilai tukar rupiah terhadap dolar.
Harga kedelai yang mengalami kenaikam secara bertahap menyusul anjloknya nilai tukar rupiah terhadap dolar.
Harga kedelai yang mengalami kenaikam secara bertahap menyusul anjloknya nilai tukar rupiah terhadap dolar.

POJOKJABAR.id, CIANJUR-Seiring melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika, hingga tembus angka Rp14 ribu lebih, membuat segelintir pedagang yang mengandalkan bisnis impor mulai terancam. Seperti halnya pelaku usaha berbahan baku kacang kedelai.

Harga kacang kedelai non-eceran kini di kawasan Cianjur, berkisar antara Rp7.350 hingga Rp7.500 per kilogram. Kacang yang seringkali digunakan sebagai bahan baku tahu dan tempe tersebut kebanyakan diimpor dari luar Indonesia. Kendati belum ditemui dampak yang signifikan terhadap para pelaku usaha tersebut, pemerintah dituntut untuk dapat mengantisipasi kemungkinan-kemungkinan akan terjadinya kelangkaan hingga permainan harga. Agar para pelaku usaha, khususnya Usaha Kecil dan Menengah (UKM) dapat menjalankan usahanya tanpa rasa khawatir.

Kepala Bidang (Kabid) Perdagangan, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Cianjur, Judi Adhi Nogroho menjelaskan, temuan-temuan semacam ini sudah sering terjadi.

“Sejauh ini stok kacang kedelai masih aman, mudah-mudahan kedepannya tetap aman. Memang dampak melemahnya nila tukar rupiah sejauh ini belum dirasakan signifikan. Sebetulnya ini momen yang baik untuk menggenjot produksi kedelai dalam negeri,” ucap Adhi kepada Radar Cianjur (Grup Pojoksatu), Jumat (28/8/2015).


Adhi pun hingga kini tetap menjalin komunikasi dengan para pengurus Koperasi Pengrajin Tahu Tempe (Kopti) Kabupaten Cianjur untuk tetap memonitor perdagangan kedelai.

“Para pengusaha tahu-tempe itu sudah berada dibawah naungan Kopti, jadi kecil kemungkinan akan terjadinya penimbunan, permainan harga, hingga kelangkaan. Yang terpenting kami harapkan agar para pelaku usaha lebih kreatif lagi dalam melakukan usaha,” harapnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) Kabupaten Cianjur, Riwan Ilyasin menuturkan, untuk meminimalisir dampak yang signifikan, pihaknya mengajak para pelaku UMKM yang belum bergabung dalam koperasi, agar segera bergabung.

“Kalau sudah tergabung dalam koperasi, tentunya apabila kena dampak yang signifikan, bisa diminimalisir karena segala kesulitan bisa diatasi bersama. Tentunya dari kami juga tidak tinggal diam. Berbagai upaya telah kami lakukan untuk meningkatkan perekonomian para pelaku UMKM, salah satunya dengan menjalankan sertifikasi produk unggulan Kabupaten Cianjur,” tutur Ridwan.(cr2/dep)