Dolar Melesat, Tahu-Tempe Digilas

Harga kedelai yang mengalami kenaikam secara bertahap menyusul anjloknya nilai tukar rupiah terhadap dolar.
Harga kedelai yang mengalami kenaikam secara bertahap menyusul anjloknya nilai tukar rupiah terhadap dolar.
Harga kedelai yang mengalami kenaikam secara bertahap menyusul anjloknya nilai tukar rupiah terhadap dolar.

POJOKJABAR.id, CIANJUR-Anjloknya nilai tukar rupiah terhadap dolar ternyata membawa dampak tersendiri bagi pengerajin tahu-tempe, salah satunya di Cianjur. Kini, harga bahan baku tahu-tempe yang notabene adalah kedelai pun mengalami kenaikan. Akibatnya, harga tahu-tempe yang dinilai sebagai makanan rakyat itu ikut melambung.

Seperti diungkap salah satu pengerajin tahu, Adi Suwardi di Pamoyanan, Cianjur. Ia pun mengeluhkan tingginya harga kedelai yang mengalami kenaikam secara bertahap menyusul anjloknya nilai tukar rupiah terhadap dolar.

“Iya sekarang kedelai naik. Saya beli Rp9ribu per kilogram di Pasar Muka,” ungkap dia, Kamis (27/8/2015).

Meski masih bisa terus berporduksi, Adi mengakui, ia pun harus memutar otak agar usahanya itu tetap berjalan. Salah satu caranya adalah dengan mengurangi ukuran tahu produksi.


Ditambahkan Adi, ia terpaksa melakukan hal itu karena ia merasa tidak akan mungkin menurunkan kualitas. Pasalnya, jika ia melakukan itu, bakal lebih banyak lagi pelanggannya yang kabur dan tidak lagi membeli tahu produksinya.

“Tidak berani kalau menurunkan kualitas. Jadi ya terpaksa ukurannya saja yang dikurangi. Saya kan usaha cuma ini. Kalau pelanggan kabur, saya malah jadi bingung,” jelas dia.

Menurut Adi, meski masih belum cukup berpengaruh signifikan, namun ia juga mengaku cukup mengkhawatirkan naiknya harga kedelai itu. Sebab, nasib serupa yang dialami para pedagang daging sapi dan ayam secara bergantian beberap waktu yang lalu, menjadi momok yang cukup menakutkan.

“Kalau liat berita kan dolar naik terus. Kami takutnya nanti bernasib sama seperti daging sapi dan ayam. Jelas kami khawatir. Namanya kita kan cuma ingin usaha lancar dan terus berjalan,” beber dia.

Karena itu, ia sangat berharap, ada kebijakan khusus dan campur tangan pemerintah untuk bisa menekan dan menormalkan kembali harga kedelai di pasaran. Setidaknya, ada jaminan agar para pengerajin sepertinya tidak digilas pemain-pemain besar yang diakuinya memiliki kuasa untuk mempermainkan harga.

“Kami maunya ya tetap jalan. Tapi risikonya kalau terus begini kan ke karyawan juga,” ucap Adi.

Terpisah, Koperasi Produsen Tahu Tempe Indonesia (KOPTI) Cabang Cianjur meminta semua pengerajin tahu dan tempe yang ada di Kabupaten Cianjur agar tidak panik meskipun saat ini, nilai tukar rupiah terus melemah hingga mencapai level di ataa Rp14.140.

Ketua KOPTI Cianjur, Hugo Siswaya menegaskan, kekhawatiran para pengerajin tahu-tempe bakal bernasib sama seperti pedagang daging sapi dan ayam, disebutnya tidak akan terjadi.

“Kondisinya tidak seburuk itu. Jadi tidak usah panik,” tegas Hugo, ditemui di ruang kerjanya kemarin.

Kendati demikian, nilai tukar mata uang rupiaj terhadap dolar menjadi indikator utama dalam menentukan harga kedelai. Pasalnya, kedelai yang banyak dikonsumsi di Indonesia adalah kedelai impor yang dalam proses transaksinya menggunakan mata uang dolar Amerika.

Tapi, tekan Hugo, harga kedelai di bursa komoditi nasional mengalami hal yang sebaliknya. Ia menyebut, meski dolar naik, harga kedelai kini mengalami tren penurunan jika dibandingkan beberapa waktu yang lalu.

“Dolar memang naik. Tapi di bursa komoditi, harga kedelai ini trennya turun jika dibandingkan dengan sebelum lebaran kemarin,” jelas dia.

Hugo menyatakan, harga kedelai yang dijual KOPTI kepada pengerajin tahu-tempe yang menjadi anggotanya, kini hanya berkisar Rp7.300 per kilogramnya dengan kualitas sedang. Harga itu, kaya Hugo, dinilainya masih cenderung stabil.

“Kalau kenaikannya itu kemarin tidak langsung, tapi bertahap mulao dari Rp6.500 per kilogram sebelum lebaran,” papar dia.

Meski dinilainya masih dalam batas normal dan belum mencapai ‘titik nadir’, namun Hugo juga mengakui adanya penurunan omset dari para pengerajin tahu-tempe. Adapun penurunan omset para anggotanya itu hanya berkisar antara 10-20 persen saja dengan proses produksi yang juga masih terus berjalan.

“Itu juga lebih disebabkan karena menurunnya daya beli masyarakat. Itu juga bisa saja disebabkan karena dolar. Sejauh ini, produksi para pengerajin anggota KOPTI yang biasanya 1 kuintal, kini hanya 90 kilogram,” urai dia.(ruh/dep)