Awas! Turis Bawa Virus Mers

Ilustrasi WNA Timteng
LIBURAN: Tiga orang WNA asal Timteng saat menikmati wahana hiburan di salah satu kawasan hiburan di wilayah Sukaresmi. FOTO: FARHAAN M RIDWAN/RADAR CIANJUR
LIBURAN: Tiga orang WNA asal Timteng saat menikmati wahana hiburan di salah satu kawasan hiburan di wilayah Sukaresmi, Cianjur. FOTO: FARHAAN M RIDWAN/RADAR CIANJUR

POJOKJABAR.id, CIANJUR- Pemerintah Kecamatan Pacet waspadai keberadaan WNA asal Timur Tengah. Menyusul meninggalnya sembilan orang di Timur Tengah akibat virus Mers.

Staf Ketentraman dan Ketertiban Kecamatan Cipanas Jaelani mengatakan, kehadiran WNA asal Timur Tengah semakin menjamur di wilayah Kecamatan Pacet. Keberadaan mereka harus diwaspadai. Apalagi di Timur Tengah sudah ada sembilan orang meninggal akibat virus mers.

“Jangan sampai lengah. Seharusnya pemerintah melakukan antisipasi terhadap mereka. Jangan sampai mereka masuk ke Indonesia dengan membawa penyakit,” katanya.

Diakuinya, pihaknya sangat menyayangkan hingga saat ini tidak pernah ada pemeriksaan kesehatan kepada para WNA. Sehingga mereka dengan bebasnya masuk ke wilayah Pacet dan berinteraksi langsung dengan masyarakat.


“Selain dari sisi kesehatan. Mereka (Para WNA) harus diperiksa tentang legalitasnya selama berwisata di Cipanas, karena selama ini tidak ada pemeriksaan sama sekali dari pihak imigrasi,“ ujarnya.

Menurutnya, Polres Cianjur bersama sejumlah pihak seperti pengelola Kota Bunga, masyarakat sekitar, broker, dan lainnya, saat ini tengah membahas mengenai berbagai persoalan terkait dengan keberadaan WNA asal timur Tengah.

“Kehadiran turis asal Timteng ini memang kerap menimbulkan permasalahan. Pasalnya kehadiran mereka telah mengundang mucikari membawa PSK.
Kepala Desa Sukanagalih Dudung Jaenudin menjelaskan, sekitar 100 turis asal Timur Tengah selalu mendatangi desa-nya setiap bulan. Bahkan pada bulan tertentu, turis asal Timur Tengah yang datang ke Desa Sukanagalih bisa lebih dari 100 orang.

“Kami resah karena setiap minggu orang-nya bergantian,” ujarnya.

Dudung mengaku, tidak memiliki data pasti tentang jumlah turis yang datang ke Desa Sukanagalih. Para turis ini kebanyakan tinggal di komplek villa yang ada di wilayah Desa Sukanagalih.

“Kami juga tidak tahu kegiatan mereka di sana. Apalagi mereka keluar-masuk sehingga sulit untuk dipantau. Apakah mereka sehat atau tidak,” akunya.(fhn/dep)