Lestarikan Batik Cianjur, Harry Raih Penghargaan Pin Emas

Harry M Sastrakusumah saat menerima penghargaan.

Harry M Sastrakusumah saat menerima penghargaan.

POJOKJABAR.id, CIANJUR-Ini bisa menjadi kebanggaan dan prestasi tersendiri bagi Kabupaten Cianjur. Pasalnya, salah satu tokohnya yang bergerak di bidang usaha pelestarian batik khas Cianjuran, Harry M Sastrakusumah, dianggap pantas menerima penghargaan dan pin emas dari Kementerian Koperasi Republik Indonesia beberapa waktu lalu.

Ditemui di kediamannya di Gedong Asem Cianjur, Senin (17/8/2015) kemarin, Harry mengatakan, penghargaan yang diterimanya itu merupakan salah satu bentuk perjuangan dan baktinya untuk negara di zaman kemerdekaan seperti sekarang ini.
Karena itu, lanjut dia, apa yang dilakukannya selama ini dianggapnya sebagai bentuk lain dari perjuangan sebagaimana yang dilakukan oleh para pejuang sebelum kemerdekaan Indonesia dengan berperang dan mengangkat senjata untuk melawan penjajah yang ingin menguasai tanah air.

“Saya hanya melakukan apa yang saya tahu dan saya bisa selama ini. Karena memang saya sangat menggemari batik, maka itu pula yang saya lakukan sejak dulu hingga sekarang,” tutur Harry, Senin (17/8/2015).

Jika dulu, para pejuang rela mengorbankan harta, raga dan nyawanya, maka ia pun demikian. Namun, itu dilakukannya dengan cara melestarikan batik khas Cianjuran yang selama ini, menurutnya, sudah hampir-hampir punah.

Oleh karena itu, ia memilih jalan untuk terus berusaha semaksimal mungkin, dengan daya usaha, tenaga dan cara yang ia bisa ia lakukan untuk memasyarakatkan batik. Hal itu, menurutnya, sama halnya dengan berkiprah dan berbuat untuk turut serta membangun negara ini dengan melakukan hal-hal yang lebih positif dan bermanfaat bagi masyarakat, bangsa dan negara.

“Kalau bukan kita sendiri, lantas siapa lagi yang akan melestarikan batik milik Cianjur yang terkenal dengan motif Beasan-nya itu,” ujar Harry.

Pria yang dilahirkan dari keluarga yang memang memproduksi kain batik khas Cianjuran itu mengatakan, di zaman modern seperti saat ini, diakuinya menjadi lebih sulit dan melahirkan tantangan tersendiri.

Pasalnya, generasi muda kini, banyak yang enggan untuk mengenakan batik untuk kesehariannya. Padahal, jaman dulu, batik menjadi kain yang dinilai hanya bisa dikenakan oleh para kaum terpandang dan kelas atas saja. Sedangkan rakyat biasa, sama sekali tidak akan bisa mengenakan kain batik.

“Jadi, ada pandangan bahwa mengenakan batik itu adalah kuno dan tidak gaul, kalau kata remaja sekarang. Pola pikir demikian ini yang harus dirubah. Kalau terus dibiarkan begitu saja, maka tidak heran jika banyak remaja atau generasi muda yang enggan memakai batik,” terang dia.

Oleh karena itu, ia pun bertekad mengenalkan kain batik kepada genarasi muda sejak usia dini. Salah satu caranya adalah dengan menciptakan motif batik pelajar mulai dari PAUD/TK, SD dan sederajat, SMP dan sederajat, serta SMA dan sederajat.

Harapannya, ketika seragam itu dipakai, minimal sehari dalam setiap minggunya, bakal menghilangkan pemikiran bahwa batik adalah kuno dan tidak gaul. Terbukti, setelah sekian tahun menapaki jalan terjal itu, melalui lomba-lomba kreasi motif batik, maka diciptakanlah motif batik pelajar seperti yang sudah banyak dipakai saat ini.

“Itu semua motifnya yang menciptakan ya para pelajar itu sendiri melalui lomba. Setelah itu motif batiknya dipatenkan dan puluhan pelajar yang memanangkan lomba itu mendapat royalti dari penjual setiap potong seragam batik yang laku dijual. Selama motif itu masih diproduksi dan laku, maka selama itu juga, pelajar pencipta motif itu mendapatkan royalti,” jelas dia.

Berkat kerja kerasnya itu, Harry pun dinilai oleh Kementria Koperasi RI sebagai salah satu tokoh nasional asal Cianjur yang berhak dianugrahi penghargaan berupa sertifikat dan pin emas Citra Karya Pembangunan Indonesia dari Kementrian Koperasi RI karena dianggap telah berjasa melestarikan batik sebagai warisan budaya nasional.

Penghargaan itu, menurut Harry, mengacu pada kriteria yang telah ditetapkan, yaitu dengan melakukan pemantauan, baik secara langsung maupun tidak langsung. Selanjutnya, dilakukan pengkajian yang kemudian ditentukan oleh tim komite untuk melakukan proses seleksi dan evaluasi sesuai standar TQM (Total Quality Management) yang menilai dan memutuskan untuk memberikan gelar kehormatan dan penobatan bagi yang memiliki kapasitas, dedikasi serta profesionalisme.

“Ini adalah penghargaan untuk rakyat Cianjur sebagai kado Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-70 tahun,” kata dia.(ruh/dep)

Feeds

Pileg 2019

Jangan Asal Pilih Dewan di 2019

Masyarakat diminta cerdas memilih wakil rakyat di 2019. Sebagai corong aspirasi, DPRD Kabupaten Bekasi harus diisi para anggota dewan yang …