Helaran Budaya Dilarang, Seperti Ini Aksi Protes Seniman Cianjur

PROTES: Adam Jabar luapkan kekecewaan atas tidak digelarnya Helaran Budaya pada bupati lewat tulisan di mobilnya.
PROTES: Adam Jabar luapkan kekecewaan atas tidak digelarnya Helaran Budaya pada bupati lewat tulisan di mobilnya.
PROTES: Adam Jabar luapkan kekecewaan atas tidak digelarnya Helaran Budaya pada bupati lewat tulisan di mobilnya.

POJOKJABAR.id, CIANJUR-Keputusan Bupati Cianjur, Tjetjep Muchtar Soleh yang melarang pawai Helaran Budaya untuk tahun ini dengan alasan keamanan karena mendekati momen pemilihan kepala daerah (Pilkada) 9 Desember 2015, mendapatkan kecaman keras dari sejumlah kalangan. Salah satunya, datang dari sejumlah komunitas seniman tradisional dan kontemporer di Cianjur. Keputusan tersebut, dianggap sebagai pengkebirian keberlangsungan budaya Cianjur yang sudah berlangsung selama ini.

Demi melancarkan protes tersebut, para seniman pun menggelar berbagai unjuk seni budaya yang digelar di jalanan bertepatan dengan Peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-70. Protes yang diberi tajuk Pameran Kemerdekaan itu pun digelar di trotoar tepat di depan kantor Kecamatan Cianjur di Jalan Siliwangi (depan RS Paru-paru, red), Senin (17/8/2015) siang.

Perupa Internasional asal Cianjur, Adam Jabbar, ditemui di lokasi mengatakan, mewakili puluhan komunitas kesenian baik tradisional maupun kontemporer yang ada di Cianjur, pihaknya merasa sangat kecewa dan mengecam keputusan bupati itu.

Pasalnya, pawai Helaran Budaya yang selalu dibarengkan dengan pawai peringatan Kemerdekaan RI itu setiap tahunnya dianggap sebagai bagian dari ‘ritual’ dan budaya Cianjur yang haram untuk ditinggalkan.


“Masyarakat Cianjur ini sangat butuh ruang-ruang ekspresi budaya dan kesenian seperti Helaran Budaya. Nah, Helaran Budaya itu adalah salah satu ruang ekspresi yang sudah menjadi mmilik masyarakat Cianjur, bukan Pemkab Cianjur. Ini kok malah dilarang sama bupati dengan alasan yang tidak masuk akal,” kecam Adam Jabbar ditemui di lokasi, kemarin.

Adam menambahkan, dengan alasan ketakutan terjadinya kerusuhan dan konflik karena mendekati pilkada, dianggapnya sebagai usaha pengkebirian ruang-ruang ekspresi, budaya, kesenian dan juga rekreatif masyarakat yang membutuhkan hiburan dan tontonan kesenian dan budaya serta kearifan lokal.

“Dalam setiap pawai Helaran Budaya itu kan ada Kuda Kosong. Itu sudah ada jauh sejak sebelum pawai Helaran Budaya itu diadakan. Memangnya kebudayaan itu milik satu orang bupati saja?,” cecar Adam.

Malah, dia menyebut, dengan ditiadakan pawai Helaran Budaya, maka sangat mungkin ketakutan bupati terhadap kerusuhan dan konflik itu semakin besar potensi terjadinya. Pasalnya, kran masyarakat untuk berekepresi, dalam hal ini budaya dan kesenian, akan tertutup rapat sehingga menciptakan bom waktu yang bisa meledak setiap saat.

“Jelas semakin besar. Ketika kegiatan kebudayaan dan kesenian itu hilang, maka tingkat stressing masyarakat pun semakin tinggi. Secara otomatis, ketika tidak bisa disalurkan, maka akan menjadi kemarahan yang sangat besar. Itu potensi kerusuhan dan konflik,” urai dia.

Oleh karena itu, ia bersama sejumlah komunitas kesenian yang ada di Cianjur, berinisiatif untuk menggelar sendiri kegiatan kesenian, meskipun itu dilakukan dijalanan dan trotoar jalan. Hal itu, ucap Adam, sebagai simbol perlawanan para seniman dan penikmat budaya atas keputusan bupati yang dianggap keblinger itu.

“Kami akui memang memangkas hak para pejalan kaki karena trotoar kami gunakan untuk acara ini. Tapi ternyata, masyarakat yang melintas justru antusias dan tertarik dengan kegiatan semacam ini,” tutur seniman berambut gondrong ini.

Dalam kegiatan itu sendiri, jelas Adam, tidak sepeserpun mendapatkan dukungan ataupun sokongan pendanaan dari pemerintah. Seluruh biaya untuk pameran jalanan itu, ditegaskan Adam, berasal dari udunan dari setiap orang yang ikut meramaikan pemeran yang memajang aneka bentuk kesenian itu.

“Ini mereka semua datang dengan membawa masing-masing karyanya. Uangnya juga dari udunan. Yang mau perform juga dipersilahkan dan tidak dibatasi. Di sini, bebas berekspresi,” tegas Adam.

Adam mengungkapkan, sehari sebelum pelaksanaan pameran kesenian jalanan itu, ia didatangi oleh sejumlah seniman dan masyarakat dari Cianjur selatan dengan membawa sebuah mobil bak terbuka yang hendak dihias sedemikian rupa untuk ikut meramaikan acara pawai Helaran Budaya tahun ini.

Akan tetapi, kekecewaan yang teramat sangat terlihat dari wajah-wajah mereka yang sudah jauh-jauh dan bersusah payah demi berpartisipasi dalam acara pawai budaya dan kesenian yang juga diramaikan oleh perwakilan dari kabupaten/kota lainnya di Jawa Barat.

“Bisa dibayangkan betapa mereka sangat kecewa dan marah ketika tahu kalau bupati melarang pawai Helaran Budaya. Padahal, mereka sudah jauh-jauh datang ke Cianjur dan siap menghias mobil itu. Mereka sendiri yang mengatakan kepada saya,” sambung dia.

Sementara, Ayu (16) siswa SMAN 2 Cianjur yang kebetulan melintas bersama teman-temannya itu mengaku kagum dengan kegiatan kesenian dan budaya jalanan itu. Menurutnya, hal itu malah sama sekali tidak menganggu. Malahan, kata dia, membuat Cianjur lebih semarak dan berwarna.

“Ini bagus, kok. Kami suka kalau ada acara-acara seperti ini. Cianjur kan minim acara kesenian dan kebudayaan,” ucap Ayu diamini teman-temannya.(ruh/dep)