Pemerintah Lalai Terhadap Kesenian

LESTARIKAN: Seorang anak memeragakan beberapa gerakan dalam seni bela diri pencak silat.
LESTARIKAN: Seorang anak memeragakan beberapa gerakan dalam seni bela diri pencak silat.
LESTARIKAN: Seorang anak memeragakan beberapa gerakan dalam seni bela diri pencak silat.

POJOKJABAR.id, CIANJUR– Sanggar Sanghyang menilai pemerintah lalai dalam mengatasi masalah kesenian. Buktinya, memasuki HUT RI ke-70 tidak sedikit nilai-nilai kesenian daerah semakin dilupakan.

Ketua Sanggar Sanghyang Pheno mengatakan, hingga saat ini nampak belum ada niatan sepenuhnya dari pemerintah untuk melestarikan dan menjaga kesenian daerah, seperti kesenian Sunda.

“Saya menilai pemerintah belum sampai untuk membudidayakan dan menjaga kesenian daerah, khususnya kesenian Sunda di daerah tatar Sunda. Pemerintah selama ini hanya sekedar formalitas saja,” katanya.

Diakuinya, Pemkab Cianjur memang sudah menerapkan kebijakan Rabu Nyunda. Akan tetapi hal itu masih dianggap percuma, karena tidak dilandasi dengan pendidikan kesenian sunda itu sendiri.


“Pemerintah terkesan tidak peduli untuk melestarikan nilai-nilai kesenian. Masalah kebijakan Rabu Nyunda, hanya pakaiannya yang dipakai tanpa memahami maknanya,” terangnya.

Menurutnya, sejauh ini aktivitas pelestarian kesenian Sunda hanya dilakukan oleh para sanggar kesenian. Padahal pemerintah bisa melestarikan kesenian melaui dunia pendidikan.

“Anak-anak hanya ketika masuk sanggar saja bisa melihat keanekaragaman kesenian Sunda. Sementara di sekolah hanya masuk program ekstrakulikuler,” jelasnya.

Ditambahkannya, melalui momen kemerdekaan ini, pemerintah dihimbau untuk berpikir dan senantiasa ikut melestarikan kesenian Sunda dalam bentuk nyata.
“Kesenian ini tidak bisa dipisahkan dari sejarah kemerdekaan bangsa Indonesia,” ungkapnya.(fhn/dep)