TKW Cianjur Tewas ’Dibelah’

Ibu TKW, Sarah saat memperlihatkan foto sang anak yang tewas di Singapura.
Ibu TKW, Sarah saat memperlihatkan foto sang anak yang tewas di Singapur.
Ibu TKW, Sarah saat memperlihatkan foto sang anak yang tewas di Singapur.

POJOKJABAR.id, CIANJUR-Cerita pilu nan mengenaskan silih berganti menimpa para pekerja luar negeri Indonesia asal Kabupaten Cianjur ketika mengais rezeki di negeri orang. Ironisnya, peristiwa demi peristiwa pun berlalu tanpa ada kejelasan dan kelanjutan. Kali ini, nasib tak kalah mengenaskan, dialami Nurkhodijah (34), tenaga kerja wanita (TKW) asal Kampung Sukajadi RT 05/04, Desa Cikondang, Kecamatan Bojongpicung, Cianjur.

Ibu tiga anak itu, pulang sudah dalam keadaan tidak bernyawa dan terbungkus kain kafan dalam sebuah peti mati. Anehnya ada sejumlah kejanggalan dan ketidakwajaran pada jenazah korban yang menimbulkan kecurigaan keluarga. Ditambah kabar yang cukup mendadak.

Di rumah semi permanen Nurkhodijah yang terbuat dari anyaman bambu itu, suasana haru terasa begitu kuat. Tangis histeris pun langsung pecah seperti tidak tertahan ketika jenasah TKW Nurkhodijah akan diberangkatkan ke pemakaman setempat, Rabu (12/8/2015) sekitar pukul 07.00 WIB.

Tampak suami korban, Samsudin (36), cukup histeris dan pingsan karena tidak kuat menahan rasa kehilangan dan kesedihan yang begitu sangat. Hal yang sama pun mendera ketiga anak Nurkhodijah dan segenap kerabat lainnya.


Enung Nuryani (48), salah seorang kerabat, meninggalnya Khokho panggilan almarhumah itu sangat tidak terduga. Pihak keluarga mendapatkan kabar cukup mendadak. Padahal, sebelumnya, Khokho masih berkomunikasi dengan kelurganya melalui sambungan telepon.

”Hari Jumat (7/8/2015) kemarin Khokho masih telepon dan baik-baik saja. Tidak mengeluh sakit atau apa-apa,” jelas Enung.

Dikatakan Enung, selama 19 bulan bekerja sebagai asisten rumah tangga di Singapura itu, Khokho hampir setiap hari selalu menjalin komunikasi dengan keluarganya. Bahkan, setiap bulannya, ia selalu mengirimkan hampir seluruh uang gajinya.

Nah komunikasi terakhir antara Khokho dengan keluarganya terjadi pada, Sabtu (8/8/2015) siang lalu. Dalam komunikasi itu, Khokho mengaku merasa pusing dan sakit kepala sehabis menyantap seporsi nasi Padang dan dua tusuk sate daging kambing.

”Katanya pusing-pusing setelah makan itu. Tapi almarhumah tidak punya sejarah penyakit apapun, apalagi darah tinggi,” tambah dia.

Setelah komunikasi itu, keeseokan harinya, pihak keluarga pun kembali mengontak telepon selular korban. Namun, kendati sudah berkali-kali menghubungi dan terdengar nada sambung, korban tidak mengangkatnya.

”Dari situ sudah tidak ada kontak lagi dengan almarhumah,” tuturnya lagi.

Kemudian, seperti sambaran kilat di siang hari, keluarga mendapatkan kabar melalui telepon selular dari Jakarta, Selasa (11/8/2015) siang, yang menyatakan bahwa Khokho sudah meninggal dunia. Dalam komunikasi itu pun, pihak keluarga diminta ke Jakarta untuk mengambil jenazahnya. Selanjutnya, pihak keluarga pun langsung bergegas ke Jakarta untuk memulangkan jenazah korban yang sudah tiba di Bandara Soekarno-Hatta dengan ditemani agen penyalurnya, PT Harapan Abadi. Adapun jenazah korban baru tiba di kediamannya di Kampung Sukajadi yang akses jalannya rusak parah itu pada, Rabu (12/8/2015) sekitar pukul 02.30 WIB.

Masih menurut Enung, pihak keluarga sangat kaget dan tercengang ketika akan memandikan jenazah korban. Pasalnya, tubuh korban didapati telah dibelah mulai dari bagian tengah bawah leher dan memanjang sampai tepat di atas kemaluan. Selain itu, ada juga dua sayatan lain yang membelah mulai dari bawah tulang pundak kanan dan kiri yang saling bertemu dengan titik awal belahan di bawah leher.

”Tapi belahan itu sudah ditutup kembali dan dijahit. Jahitan lain juga ada pada bagian belakang kepala. Selain itu ada beberapa luka lebam yang membiru pada bagian leher,” beber Enung.

Atas kondisi jenazah korban yang sangat tidak lazim itu, pihak keluarga sebenarnya sangat curiga dan menilai ada banyak kejanggalan. Akan tetapi. Lanjut Enung, pihak keluarga sepenuhnya ikhlas dan pasrah.

”Sebenarnya sangat curiga. Katanya meninggal cuma karena darah tinggi. Tapi, kalau hanya karena darah tinggi kok bisa sampai diautopsi seperti itu. Apalagi untuk autopsi, pihak keluarga sama sekali tidak dikonformasi,” urai dia.

Berdasarkan keterangan pihak agen penyalur, Khokho ditemukan oleh majikannya di kamar mandi dalam keadaan sudah tidak bernyawa.

”Itu katanya, tapi ya kami kan tidak tahu lagi seperti apa-apanya,” ujar Enung.

Dikonfirmasi terpisah, Kepala Seksi Bina Lembaga Ketenagakerjaan Dinas Sosial Tenagakerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) Kabupaten Cianjur,Ubaidillah, membenarkan, bahwa pihaknya telah mendapatkan kabar meninggalnya Khokho di Singapura. Namun tidak disebutkan dengan jelas perihal penyebab kematiannya.
”Kami merasa prihatin dan berbelasungkawa atas meninggalnya almarhumah. Tapi, kami juga tidak mendapatkan keterangan yang jelas soal penyebab meninggalnya alamarhumah ini,” kata pria asli Betawi yang akrab di sapa Ubai itu.(ruh/dep)