Giliran Pedagang Ayam Mogok Jualan, Pemkab Cuek

KOSONG: Aksi mogok tak hanya dilakukan pedagang daging sapi, tapi juga pedagang daging ayam.
KOSONG: Aksi mogok tak hanya dilakukan pedagang daging sapi, tapi juga pedagang daging ayam.
KOSONG: Aksi mogok tak hanya dilakukan pedagang daging sapi, tapi juga pedagang daging ayam.

POJOKJABAR.id, CIANJUR-Setelah pedagang sapi mogok berjualan, kini pedagang ayam mogok berdagang. Hal ini menyusul semakin tidak logisnya harga ayam potong.

Ketua Asosiasi Pedagang Sapi dan Ayam Pasar Cipanas Yayuk Sri Rahayu mengaku, hingga kini harga daging ayam masih belum stabil. Bahkan diprediksi akan semakin tinggi dan akan menyulitkan pedagang.

”Kami lihat kenaikan ini akibat ulah perusahaan besar, yakni permainan pemodal besar, hingga pengaruh harga day old chick (DOC) yang tinggi, karena saat ini harga ayam Rp6 ribu sedangkan normalnya Rp3 ribu,” tutur Yayuk.

Dijelaskannya, dengan bermainnya pemodal besar (broker,red) semakin merajalela, mereka memasukan daging ke supermarket dan pasar besar. Sedangkan barang dari mereka tidak masuk ke pasar tradisional.


”Pantas saja harga daging ayam hingga Rp38 ribu per potong padahal normalnya dibawah Rp30 ribu. Makanya, sebagai bentuk protes kami terhadap pemerintah, kami mogok berdagang,” tegasnya.

Pihaknya berharap pemerintah bisa melakukan pengaturan harga. Sehingga semuanya bisa stabil.

”Ironisnya, hingga saat ini baik Pemkab Cianjur tidak ada upaya menyikapi masalah ini,” keluhnya.

Selain itu anggota dewan yang dulu saat kampanye berebut mencari simpati pedagang ke Pasar Cipanas, kini tak ada satu pun yang melihat dampak meroketnya harga daging ayam dan sapi.

”Mana anggota dewan yang saat kampanye datang ke pasar. Kondisi sulit seperti ini tak ada satu pun yang turun,” ujarnya.

Lazuardi (40) salah seorang pedagang daging ayam menjelaskan, sekitar 200 orang pedagang daging ayam di Pasar Cipanas dan GSP Sukaresmi kompak mogok berjualan.

Hal itu dilakukan sebagai bentuk kekecewaannya terhadap pemerintah.

”Mogoknya kami ini, membuktikan permainan harga bukan di level pemasok atau pedagang. Akan tetapi ada di kalangan pemodal besar,” ujarnya.

Makanya, pedagang menuntut adanya kestabilan harga. Jika tidak pedagang akan terus merugi.

Ade Suherman (51) pedagang lainnya juga mendesak pemerintah pusat bisa turun tangan. Lantaran diduga ada mafia akibat mahalnya harga daging ayam.

”Pasar Cipanas ini kebutuhan hingga satu kuintal per pedagang. Jika diakumulasikan sekitar dua ton satu hari. Kami harap agar semua lancar pemerintah bisa turun tangan,” tandasnya.

Kepala Pusat Pelayanan Pasar Cipanas mengaku, hingga saat ini masih menunggu Pemkab Cianjur untuk menyelesaikan masalah ini.

”Mahalnya daging sapi ini dampak dari pasokan impor yang dikurangi, sedangkan ayam ini dikarena DOC yang tinggi,” terangnya.

Pihaknya hingga kini menunggu apakah aakan digelar operasi pasar atau tidak. Pasalnya saat ini Pemkab Cianjur tengah berkoodinasi dengan Bulog.(fhn/dep)