Pedagang Daging Siap Ontrong Pendopo

AKSI MOGOK: Para pedagang daging sapi di Pasar Muka Ramayana Cianjur melakukan aksi mogok jualan paska naik harga. Aksi ini bakal digelar tiga hari ke depan.
AKSI MOGOK: Para pedagang daging sapi di Pasar Muka Ramayana Cianjur melakukan aksi mogok jualan paska naik harga. Aksi ini bakal digelar tiga hari ke depan.
AKSI MOGOK: Para pedagang daging sapi di Pasar Muka Ramayana Cianjur melakukan aksi mogok jualan paska naik harga. Aksi ini bakal digelar tiga hari ke depan.

POJOKJABAR.id, CIANJUR-Melejitnya harga daging sapi di Kebupaten Cianjur dinilai sudah di luar kewajaran dan memberatkan, baik kepada pedagang maupun para konsumen. Pasalnya, kenaikan harga tersebut, kini sudah menginjak di angka antara Rp110 ribu-Rp140 ribu per kilogramnya.

Melangitnya harga daging sapi itu berbeda dengan kondisi pada periode yang sama di tahun lalu. Tahun lalu, pasca musim lebaran, harga daging sapi pun turun setelah pada sebelum lebaran terus mengalami lonjakan hingga di angka Rp120 ribu per kilogramnya.

Aji (42) seorang pedagang daging sapi di Pasar Induk Cianjur (PIC) mengaku, ia memilih untuk tidak membeli daging sapi terlebih dahulu dari tempat jagal. Pasalnya harga sudah cukup tinggi.

“Kalaupun mau beli ya tidak banyak. Takutnya tidak ada yang beli jadinya sisa,” ucap Aji, Senin (10/8/2015).


Aji mengaku, dirinya kerap mendapatkan protes dari para pembeli yang menyebut bahwa harga daging sapi sudah tidak masuk akal dan meminta agar jangan mengambil untung terlalu besar. Padahal, di sisi lain, Aji mengaku, keuntungan yang diambilnya tidak berubah sejak dulu, yakni Rp3ribu.

“Itu hitungan per kilonya. Kalau dipaksa menekan untung, jelas kami yang merugi,” ujar dia bingung.

Koordinator pedagang daging sapi PIC, Riki Maulana Yusuf (31) mengatakan, keadaan yang dinilainya sangat tidak biasa itu membuat para pedagang menjadi sangat resah. Hal itu disebabkan karena kondisi ini menempatkan mereka ke dalam situasi yang serba salah.

“Kalau tidak jualan, kami tidak ada pemasukan. Tapi kalau dipaksakan berjualan, pedagang terpaksa menaikkan harga agar tidak merugi,” ujar Riki ditemui di komplek Kantor Pemerintah Kabupaten Cianjur, kemarin.

Dengan harga yang cukup tinggi itu, Riki mengakui, banyak mendapat protes dari konsumen. Selain itu, omset penjualan pun menurun cukup drastis jika dibandingkan dengan hari biasa.

“Kami paksakan jualan, yang beli juga sedikit. Otomatis omset kami turun sampai 30 persen. Sedangkan keuntungan anjlok hingga 50 persen,” jelas dia.

Riki menambahkan, kenaikan yang sama sekali tidak terkontrol itu disinyalir disebabkan karena adanya permainan oknum yang sengaja mengambil keuntungan mulai dari tingkat atas. Hal itu didasari dari ketersediaan sapi potong di tempat-tempat jagal.

Hal itu berarti, kata dia, stok daging sapi potong pun bukannya hilang dari pasaran, melainkan masih tersedia. Namun, harga yang harus ditebus pun sudah ada pada kisaran yang cukup tinggi.

“Dari tempat jagal, harga sudah berkisar di atas Rp100 ribu per kilogramnya. Otomatis, setidaknya, pedagang menjual dengan margin minimal Rp10ribu agar bisa mendapatkan untung dan tetap bisa berjualan esok harinya,” papar dia.

Pihaknya menduga, kenaikan harga daging tersebut dikarenakan adanya permainan oknum-oknum yang sengaja ingin mendapatkan keuntungan besar. Menurut keterangan yang didapatkannya, naiknya harga daging tersebut dikarenakan naiknya nilai tukar mata uang rupiah terhadap dolar. Pasalnya, daging sapi konsumsi yang banyak dijual oleh para pedagang notabene adalah sapi impor yang didatangkan dari luar negeri.

“Tapi, kok rasanya aneh kalau alasannya karena dolar naik saja. Padahal dolar juga naiknya tidak tinggi-tinggi amat. Tapi kok bisa daging sapi naiknya tidak karuan seperti ini,” heran dia.

Riki menyatakan, keanehan itu muncul manakala bosnya hendak mengambil ribuan sapi impor dari sebuah agen besar lima hari sebelum lebaran lalu. Dalam proses pengambilan itu, tiba-tiba muncul faktur baru dengan harga yang baru pula. Adapun naiknya adalah Rp3ribu per kilogramnya.

Padahal, lanjut dia, ribuan sapi itu sudah dibayar lunas sebelumnya dengan nilai tukar dolar ketika itu dan sudah mendaptkan faktur.

“Ini kok bisa keluar faktur baru dengan harga baru juga. Padahal kan sebelumnya sudah dibayar. Otomatis harga jadi lebih mahal lagi ketika mengambil sapinya itu. Ini jelas ada permainan,” yakin dia.

Karena cukup resah, para pedagang sapi pun menuntut kepada Pemkab Cianjur, khususnya bupati, agar secepatnya mengambil tindakan dan memberikan solusi atas kondisi tersebut. Atau, kalau tidak, maka pedagang pun akan benar-benar mogok berjualan.

“Sebagai bupati kan tidak bisa tinggal diam begini saja. Harus bisa mencarikan solusi, dong,” tegas dia sembari menunjukkan surat tuntutan yang ditujukan kepada bupati.

Riki mengaku, kemarin, ratusan pedagang daging sapi sudah berencana mengontrong pendopo. Tapi, rencana tersebut diurungkan atas permintaan pihak kepolisian.

“Kalau jumlahnya di pasar induk sekitar 40an pedagang, di pasar muka sekitar 50an. Sedangkan di pasar cipanas 30an dan pasar ciranjang ada 20an pedagang. Mereka semua siap turun ke pendopo kapanpun,” seloroh dia.

Karena itu, pihaknya pun ingin menempuh jalur persuasif terlebih dahulu sebelum benar-benar melakukan aksi besar-besaran.

“Harapan kami, ada solusi dan jalan keluar dari pemerintah. Kami ingin agar indikasi permainan oknum itu bisa ditekan agar harga bisa dikendalikan. Daerah lain saja pemerintahnya sudah turun langsung,” pungkas Riki.(ruh/dep)