Seperti Ini Keseruan Ibu-ibu Bhayangkari Polres Cianjur Saat Membatik

Ibu-ibu Bhayangkari Polres Cianjur Upaya Melindungi Keberadaan Batik Khas Cianjuran
Ibu-ibu Bhayangkari Polres Cianjur Upaya Melindungi Keberadaan Batik Khas Cianjuran
Ibu-ibu Bhayangkari Polres Cianjur saat membatik.

POJOKJABAR.id, CIANJUR-Ternyata, membatik itu tidak segampang dan semudah kelihatannya. Demikian kiranya kalimat yang melintasi benak para istri-istri petugas Kepolisian Resor Cianjur ketika harus berhadapan dengan selembar kain, canting dan lilin panas yang terdapat di atas kompor listrik kecil.

Bahkan, tidak sedikit di antara ibu-ibu yang mengenakan seragam Bhayangkari warna merah muda itu terlihat cukup panik ketika tuangan guratan lilin panas di atas selembar kaij itu belepotan.

“Aduh, ini kok susah yah. Jadi pada belepotan seperti ini,” ujar salah seorang Ibu Bhayangkari yang disambut gelak tawa oleh lainnya.

Acara belajar membatik itu sendiri merupakan hasil kerja bareng antara LP3EM Hibar dengan Polres Cianjur sebagai bagian untuk menjaga kelestarian batik yang sudah diakui UNESCO (lembaga PBB yang bergerak di bidang pendidikan dan budaya, red) sebagai budaya Indonesia yang menjadi warisan dunia.


Selain itu, kegiatan tersebut juga dilakukan berkaitan untuk melindungi dan menegakkan perlindungan terhadap Batik Khas Cianjuran agar tidak dipalsukan dan hilang.

Dalam kesempatan tersebut, diikuti seluruh pengurus Bhayangkari yang tersebar di 32 kecamatan di Cianjur.

“Ini sebenarnya kegiatan silaturahmi antar seluruh pengurus Bhayangkari. Tapi kami selipkan warkshop membatik. Apalagi membatik kan hal yang bagus,” ujar istri Kapolres Cianjur, Kompol Sumarni.

Sebelum memulai membatik, seluruh anggota Bhayangkari itu pun mendapatkan pemaparan singkat berkenaan tentang Batik Khas Cianjuran dari Koperasi Batik Beasan Cianjur dan LP3EM Hibar.

Hal itu dilakukan agar para peserta workshop pun memahami terlebih dahulu berkenaan dengan sejarah, motif dan pakem Beasan yang dimiliki batik khas Cianjur.

“Kajian dan pengembangan batik di Cianjur yg dilakukan LP3EM Hibar sudah diuji dan diakui di Balai Besar Kerajinan dan Batik (BBKB) Kementerian Perindustrian,” ujar Saeful Adha, trainer batik dari Koperasi Batik Beasan Cianjur.

Dengan pembekalan awal itu, lanjut Adha, diperuntukkan agar para peserta workshop bisa lebih mudah memahami batik dan berbagai motifnya serta lebih mudah dalam memulai workshop batik.

“Iya harus kenal dulu dengan batik dan motif-motifnya. Soalnya jenis dan motif batik itu kan banyak. Nah, Cianjur sendiri juga punya motif khas yakni Beasan yang didasarkan karena Cianjur adalah penghasil beras,” jelas Adha lagi.

Setelah usai mendapatkan pemaparan singkat, peserta workshop pun terlihat tidak sabar untuk memainkan canting dan lilinnya di atas selembar kain putih yang sudah dibubuhi dengan beragam motif.

Terbukti, beberapa perangkat membatik, seperti kompor listrik kecil lengkap dengan lilinnya, canting dan berlembar-lembar kain putih bermotif pun langsung diserbu.

Suasana acara membatik itu pun semakin menyenangkan manakala Ketua Bhyangkari Kabupaten Cianjur, yang juga istri Kapolres Cianjur, Kompol Sumarni, menjanjikan doorprize kepada salah seorang dengan hasil membatik yang dianggap paling bagus hasilnya.

“Yang paling bagus ada doorpize-nya. Kalau mau dapat doorprize, buat sebagus mungkin,” lantang Sumarni yang kini berdinas di Dir Reskrimsus Tipidkor Mabes Polri itu.

Sumarni menambahkan, meski workshop membatik kali ini berlangsung cukup singkat, namun pihaknya berkeinginan agar workshop lengkapnya pun bisa dilaksanakan juga dalam waktu dekat ini. Ia pun meminta secara khusus agar pelatihan singkat itu pun bisa ditindaklanjuti.

“Pelatihan singkat hari ini akan dilanjutkan ke kelas khusus membatik bagi pengurus Bhayangkari atas izin Ibu Kapolres,” ungkap Ketua Koperasi Barik Beasan Cianjur, Harry M. Sastrakusumah.

Harry berharap, dengan kegiatan tersebut, bisa menjadi stimulus usaha pelestarian batik sebagai salah satu warisan budaya Indonesia. Dengan peran aktif Ibu-ibu Bhayangkari dan kepolisian, bisa semakin menggugah pihak-pihak lain untuk ikut melakukan hal serupa hingga menjadi sebuah gerakan yang lebih besar.

“Dengan peran serta kepolisian, kejaksaan dan pemerintah daerah dalam sinergitas sosialisasi, publikasi bahkan pelatihan batik di 32 kecamatan tahun ini, diharapkan bisa menjadi pintu masuk untuk tujuan yang lebih besar dan mulia untuk melestarikan batik khas Cianjuran,'” tambah dia.(ruh/dep)