Warga ‘Dihantui’ Pohon Mati

Ilustrasi
Ilustrasi
Ilustrasi

POJOKJABAR.id, CIANJUR-Keberadaan pohon tinggi besar nan rindang di sisi jalan, tentu bakal membuat teduh dan adem. Namun, jika pohon tersebut sudah mati dan mengering, maka bakal menjadi momok tersendiri badi warga sekitar maupun pengendara yang kebetulan melintas.

Salah satunya, seperti di ruang Jalan Ir H Djuanda, Selakopi, Kelurahan Bojongherang, Cianjur, tepatnya di Kampung Selakopi. Warga sekitar pun mengeluhkan tidak adannya tindakan tanggap dan riil dari pemerintah melalui dinas-dinas terkait. Pasalnya, sejumlah pohon yang berukuran cukup besar dan sudah mati mengering di sisi kanan-kiri jalan itu, dikhawatirkan bisa membahayakan warga sekitar, pejalan kaki dan pengendara yang kebetulan melintas.

Meski sudah terlihat jelas bahwa pohon-pohon tersebut sudah mati dan rawan rubuh bahkan menimpa apa saja yang ada di bawahnya, penebangan pun ternyata hanya isapan jempol semata.

Seperti diungkapkan Farid Dahri (60), salah seorang warga Selakopi yang menuturkan bahwa, beberapa waktu terkhir, sempat ada dahan-dahan patah yang jatuh dari pohon-pohon kering itu akibat terjangan angin yang cukup kencang. Adapun peristiwa itu sendiri, seingat dia, terjadi pada hari Jumat (31/7/2015) lalu.


“Waktu itu anginnya cukup kencang. Terus ada dahan dan batang yang berukuran lumayan besar jatuh,” ungkap dia.

Menurut Dahri, dahan-dahan yang patah itu ada yang menimpa genting rumah-rumah warga dan sebagian lagi jatuh di jalan aspal serta trotoar. Jika hal tersebut terus dibiarkan, sebagai warga setempat, dia khawatir akan ada korban lainnya yang bisa saja mengakibatkan luka atau bahkan lebih.

“Andai kebetulan sedang ada yang lewat tiba-tiba tertimpa dahan jatuh kan akibatnya bisa saja fatal. Lagipula, pohon itu sudah lama kering dan tidak tumbuh lagi. Seharusnya pohon-pohon itu secepatnya ditebang dan diganti dengan pohon yang lain,” ujar Dahri, Jumat (7/8/2015) ditemui si Selakopi.

Berdasarkan pantauan di lapangan kemarin, dahan dan batang yang dimaksud Dahri menimpa genting rumah warga dan pertokoan di kanan-kiri jalan di tengah kota Cianjur tersebut sudah tidak ada. Namun, pada sejumlah pohon tampak beberapa bekas tebasan pada pohon-pohon kering itu.

“Waktu itu lama dahan yang menimpa genting dibiarkan. Warga tidak berani menebang pohon itu. Itu kan milik pemerintah, takut gara-gara bertindak sendiri, nanti malah dikenai sanksi macam-macam,” ujarnya.

Terpisah, Kepala Seksi Bina Perlindungan dan Konservasi Sumber Daya Hutan, Dinas Kehutanan dan Perkebunan (Dihutbun) Kabupaten Cianjur, Tatang Karsono, mengaku sudah melakukan penebangan pohon-pohon mati dan kering di ruas Selakopi. Namun, lanjut Tatang, pihaknya tidak bisa serta merta menebang sekaligus seluruh pohon-pohon yang mengering.

Namun, permasalahan utama yang dihadapi pihaknya adalah, imbuh dia, dikarenakan kekurangan dana untuk melakukan penebangan itu.

“Kemarin kami sudah menebang dahan-dahan yang patah. Tapi kami juga terbatas tidak bisa semuanya. Dananya kurang,” ujar Tatang melalui sabungan telepon, kemarin.

Pemeliharaan pohon-pohon di kanan-kiri jalan (KKJ) merupakan tugas Dinas Bina Marga. Namun, kata Tatang, Bupati Cianjur Tjetjep Muchtar Soleh mengintruksikan Dihutbun untuk menghandle pekerjaan itu.

“Tapi dananya memang tidak ada. Jadi untuk penebangan, kami ya nunggu anggarannya turun. Kalau sudah ada dananya baru bisa bekerja,” jelas dia.

Apalagi, kata Tatang, jika pohon-pohon itu menimpa mobil atau kendaraan yang lainnya, tak ada kompensasi apapun untuk sang pemilik. Adapun pohon-pohon angsana yang mati dan akan ditebang itu, nantinya akan diganti dengan pohon Sepatu Dea yang menjulang.

“Sudah ada 12 pohon di Selakopi itu yang kami tebang. Ya bertahap saja, kami belum bisa memastikan kapan akan mulai menebang pohon mati itu. Kami tunggu dananya ada dulu,” tukas Tatang.(ruh/dep)