Sepasang Kekasih Lakukan Hubungan Seks di Halaman KNPI

AIDS

POJOKSATU.id, CIANJUR-Di halaman gedung KNPI Kabupaten Cianjur di Jalan Ir H Juanda, Panembong, seorang perempuan muda melakukan hubungan layaknya suami-istri dengan seorang laki-laki, meski keduanya tidak terikat dalam pernikahan.

Setelah menyadari bahwa sang lelaki mengidap HIV/AIDS, perempuan itu pun hanya bisa menangis menyesal dan meratapi nasibnya. Perempuan itu sungguh sangat ketakutan sudah tertular penyakit yang hingga kini belum ditemukan obatnya itu.

Dalam benaknya, dengan virus HIV/AIDS yang sudah ditularkan sang lelaki kepadanya melalui hubungan badan itu, ia bakal dijauhi dan diasingkan oleh orang-orang terdekat bahkan keluarganya sendiri karena takut tertular. Maka, ia pun harus rela hidup menyendiri.
Dalam sesal yang teramat mendalam, perempuan itu pun tidak henti-hentinya meneteskan airmata penyesalan. Kebetulan, seorang temannya melintas lalu mendekatinya tanpa rasa canggung ataupun takut tertular.

Lantas, tanpa rasa jijik dan takut tertular HIV/AIDS, ia pun membawa sang perempuan tersebut ke pusat rehabilitasi Orang Dengan HIV/AIDS(ODA) untuk mendapatkan pengobatan.

Rentetan kisah itu merupakan bagian dari penampilan teater musikal yang diperagakan oleh para aktivis kemanusiaan yang tergabung dalam Kesatuan Aktivis Wahana Alam dan lingkungan (Kawalhi) dan Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Kabupaten Cianjur, Sabtu (6/6) malam di halaman Gedung KNPI.

Ketua Kawalhi Kabupaten Cianjur, Bayu, mengatakan, pementasan teater tersebut dilakukan sebagai gambaran semakin berkurangnya kepedulian warga terhadap HIV/AIDS, terlebih kepada para penderitanya.

Padahal, tegas Bayu, orang yang terjangkit HIV/AIDS tidak sepenuhnya dan patut disalahkan. Tidak sedikit di antara mereka yang terjangkit virus tersebut akibat orangtuanya serta pasangan resmi yang ternyata sudah terjangkit penyakit berbahaya itu sebelumnya dan tanpa ia ketahui.

“Mereka ini merupakan korban saja. Selain itu, kurangnya kepedulian masyarakat mengakibatkan informasi tentang penyakit tersebut tidak sampai. Sehingga mereka tidak tahu ciri-ciri serta cara agar tidak tertular,” jelas Bayu, seperti dilansir Radar Cianjur (Grup Pojoksatu.id) Senin (8/6).

Selain itu, tambah Bayu, setiap didapati seseorang penderita HIV/AIDS di suatu daerah, maka warga di lingkungan tersebut acap kali lebih mendiskriminasi dan menjauh dari para ODA. Alasannya, karena takut tertular. Ironisnya, masyarakat terlanjur menganggap bahwa para ODA itu orang yang paling kotor. Akibatnya, para ODA pun semakin tidak memiliki semangat hidup.

“Masih banyak anggapan terkena HIV/AIDS itu karena terjerumus dalam dunia malam, baik karena sering melakukan seks bebas maupun menggunakan narkoba. Akibatnya, para pengidap yang diantaranya korban tersebut tidak memiliki semangat dalam menjalani hidup mereka,” jelas dia.(ruh/dep)

Feeds