Dua Pengedar Sabu Diringkus

Lapas II A Karawang
Lapas (ilustrasi)./Foto: istimewa
ilustrasi
ilustrasi

POJOKSATU.id, CIANJUR-Satuan Narkoba Polres Cianjur kembali berhasil meringkus dua orang pengedar sabu di Jalan Raya Cugenang, Kampung Cangklek, Desa Sukamanah, Kecamatan Cugenang, Senin (4/5) kemarin. Kedua pengedar barang haram itu ditangkap petugas setelah salah seorang anggota Satnarkoba Polres Cianjur menyamar menjadi pembeli untuk memancing pengedar tersebut.

Selain berhasil menangkap kedua pelaku, petugas juga berhasil mengamankan barang bukti berupa 6 paket sabu siap edar dengan berat lebih kurang lima gram. Kedua pelaku yang telah ditetapkan sebagai tersangka itu adalah AH (35) warga Desa Cibeurem, Kecamatan Cugenang dan HH (28) alias AB warga Desa Sukamanah, Kecamatan Cugenang.

Kapolres Cianjur AKBP Asep Guntur Rahayu melalui Kasat Narkoba Polres Cianjur AKP Sugeng Heryadi mengungkapkan, keberhasilan pihaknya dalam meringkus pengedar narkoba jenis sabu itu tidak terlepas adanya peran aktif masyarakat. Sebelumnya, pihaknya menerima laporan dari masyarakat yang memberitahukan adanya transaksi narkoba di kawasan tersebut.

Segera setelah mendapakan laporan tersebut, pihaknya lantas menindaklanjuti dengan mengecek langsung dan mengirim salah seorang anggota Satnarkoba untuk menyamar sebagai pembeli. Dari penyamaran itu, petugas memancing terlebih dahulu dengan membeli satu paket sabu.


“Kami pancing dan pastikan dulu dengan membeli satu paket sabu seharga Rp600 ribu. Ternyata memang benar,” ungkap Sugeng, Senin (4/5) kemarin.

Selanjutnya, pihaknya pun kembali memancing dengan alasan akan kembali membeli paket sabu dari tersangka. Setelah ditunggu, pihaknya akhirnya bisa menangkap AH yang sebelumnya sempat menaruh satu paket sabu di suatu tempat di Kampung Cangklek, Desa Sukamanah, Cugenang yang sudah dipesan petugas yang menyamar.
“AH ini langsung kami sergap dan yang bersangkutan mengakui bahwa itu adalah sabu miliknya,” ujar Sugeng.

Dari penangkapan AH tersebut, pihaknya lantas langsung mengembangkannya. Dari pengakuan AH, barang haram tersebut didapatkan dari seorang rekannya berinisial HH. Sedangkan AH, dalam pengedaran narkoba sabu tersebut, selama ini selalu mendapatkan perintah dan hanya menjadi pengantar paket-paket sabu atau tukang tempel saja.

“Kami langsung kejar AH saat itu juga, karena takut keburu kabur,” terang dia.
Sekitar satu jam kemudian, pihaknya pun langsung menyasar rumah AH di Kampung Kedung, Desa Sukamanah, Cugenang dan berhasil menangkap tersangka yang sama sekali tidak memberikan perlawanan.

Diketahui, dalam penggeledahan itu, pihaknya mendapatkan enam paket sabu dalam bungkus plastik bening yang disimpan AH dalam sebuah tas selendang warna hitam. Dengan barang bukti tersebut, AH pun mengakui bahwa sabu itu adalah miliknya.
“Keduanya langsung kami gelandang ke Mapolres untuk diinterogasi dan dimintai keterangannya untuk kami lakukan pengembangan lebih lanjut,” jelas Segeng.

Sugeng menambahkan, dari pengakuan AH, sabu tersebut ia dapatkan dari seorang warga Bogor berinisial RA. Sedangkan RA sendiri adalah rekan AH ketika masih mendekam di dalam lembaga pemasyarakatan Banceuy Bandung dalam kasus yang sama dan baru keluar penjara sekitar enam bulan yang lalu.

“Dari RA ini, AH membeli sabu seharga Rp5 juta yang kemudian dipecah lagi menjadi sepuluh paket-paket kecil siap edar. Dari sepuluh paket itu, sudah terjual tiga paket. Sedangkan tujuh paket sisanya sudah kami amankan,” imbuh Sugeng.

Dikatakan Sugeng, pihaknya kini masih mengejar RA yang selama ini sudah menjadi pemasok sabu tersebut. Adapun dari pengakuan kedua tersangka, pengedaran sabu yang dilakukan itu sudah berjalan beberapa bulan ke belakang.

“Kalau konsumennya ya berasal dari sekitaran Cianjur,” sambung Sugeng.
Sugeng menjelaskan, dari dua penangkapan pengedar sabu yang sudah dilakuan pihaknya itu, terdapat kesamaan dalam bertransaksi yakni baik antara pengendar dan pembeli sama sekali tidak bertemu secara langsung.

Transaksi tersebut, kata Sugeng, dilakukan melalui sambungan telepon. Sedangkan untuk mendapatkan sabu, konsumen pun harus menyetorkan uang itu dengan cara mentrasfernya ke sebuah rekening yang juga bukan atas nama pelaku.

Setelah uang tersebut ditransfer, para pengedar pun menaruh sabu pesanan tersebut di suatu tempat yang kemudian lokasinya diberitahukan kepada konsumennya untuk mengambilnya sendiri.

“Sepertinya memang ada perubahan cara dan modus pengedarannya. Nah, ini termasuk cara yang baru berlaku di Cianjur,” papar dia.

Akibat perbuatan keduanya itu, pihaknya pun menyangkakan Pasal 112 ayat (2) jo Pasal 114 ayat (2) Undang-undang Nomor 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika dengan ancaman pidana penjara kurungan paling singkat lima tahun dan paling lama dua puluh tahun.

Selain itu, denda paling sedikit yakni Rp1 miliar dan paling banyak Rp10 miliar pun harus dihadapi keduanya.

“Karena mereka ini residivis dan pernah menjalani hukuman dengan kasus yang sama, maka bisa saja hakim akan memberikan hukuman yang lebih besar dari sebelumnya,” pungkas Sugeng.(ruh/dep)