Pembunuh Bayaran Sadis Ditangkap

Pelaku pembunuhan terhadap Doni alias Tato, warga asal Lampung, Sumatera, berhasil diringkus Polres Cianjur, Senin (27/4) kemarin.
Pelaku pembunuhan terhadap Doni alias Tato, warga asal Lampung, Sumatera, berhasil diringkus Polres Cianjur, Senin (27/4) kemarin.
Pelaku pembunuhan terhadap Doni alias Tato, warga asal Lampung, Sumatera, berhasil diringkus Polres Cianjur, Senin (27/4) kemarin.

POJOKSATU.id, CIANJUR-Akhirnya, setelah melakukan pelarian dan bisa menghindari pendeteksian petugas kepolisian sejak Juli 2013 lalu, kedua pelaku pembunuhan terhadap Doni alias Tato, warga asal Lampung, Sumatera, berhasil diringkus Polres Cianjur, Senin (27/4) kemarin.

Keduanya ditangkap di rumahnya masing-masing setelah pihak kepolisian memastikan bahwa keduanya sudah kembali dan berada di rumahnya di Kampung Salitri, Desa Mekarsari Kecamatan Agrabinta, Cianjur.

Kapolres Cianjur, AKBP Dedy Kusuma Bakti didampingi Kasat Reskrim Polres Cianjur AKP Gito, menjelaskan, penangkapan atas kedua pelaku berinisial P dan H ini sebenarnya berawal dari ditemukannya sesosok mayat laki-laki yang ditemukan di Sungai Cisokan, Desa Mekarsari, Kecamatan Agrabinta pada 23 Juli 2013 silam yang mengenakan kaos coklat dan celana pendek serta terdapat tato di lengan kanannya.

Mayat yang memiliki ciri-ciri tinggi badan 160 sentimeter, berumur lebih dari 45 tahun dan berambut lurus sedikit beruban serta berjambang itu ditemukan dalam kondisi yang cukup mengenaskan.


Pada sebagian tubuhnya, sudah mulai mengelupas, terutama pada bagian wajahnya. Selain itu, mayat yang sama sekali tidak terdapat identitas itu ditemukan dalam kondisi tangan serta kaki yang masih terikat tali tambang.

“Petunjuk dan barang bukti yang kami dapatkan di lokasi sangat minim. Warga sekitar juga tidak ada yang mengenal korban. Apalagi, tidak didapati identitas sama sekali pada tubuh korban,” jelas Dedy.

Meski hanya memiliki petunjuk yang sangat minim, Dedy mengaku, kasus tersebut tetap ditindaklanjuti pihaknya. Berkat penyelidikan dan penyidikan Sareskrim Polres Cianjur, pihaknya berhasil mengungkap pelaku pembunuhan terhadap korban tersebut.

Perwira Polri asal Malang, Jawa Timur itu membeberkan, kronologis pembunuhan tersebut berawal sekitar Juli 2013 lalu. Saat itu, P kedatangan salah satu temannya, S bersama korban yang akhirnya diketahui bernama Doni itu.

Setelah menginap di rumah P tersebut, S kemudian menyuruh P agar membunuh Doni. Sebagai imbalannya, S memberikan uang sebesar Rp5 juta untuk menghabisi nyawa Doni. Kemauan S itu kemudian dituruti P dengan mengajak serta temannya, H, dengan imbalan Rp1,5 juta.

“Kemudian, ketiganya itu menyusun rencana untuk mengeksekusi korban,” ujar Dedy.
Lalu, pada 21 Juli 2013, rencana itu pun dilaksanakan oleh P dan H. Agar korban tidak curiga, kedua pelaku kemudian mengajak korban untuk memancing di Sungai Cisokan di Kampung Salitri, Desa Mekarsari, Kecamatan Agrabinta.

“Korban sendiri dibonceng diapit di tengah dengan menggunakan sepeda motor. Sedangkan yang menyetir adalah P dan H ada di belakang korban,” terang Dedy.
Hingga sekitar pukul 17.00 WIB tidak mendapatkan ikan satupun, kedua pelaku mengajak korban untuk beristirahat di sebuah saung di tengah sawah. Alasannya, karena tidak mungkin untuk pulang ke rumah yang berjarak cukup jauh dan sudah kemalaman. Sehingga, akan lebih aman jika pulang esok paginya.

“Tapi itu cuma rencana kedua pelaku saja. Makanya semuanya sudah direncanakan oleh kedua pelaku,” tutur Dedy.

Kemudian, kedua pelaku pun menunggu hingga korban tertidur pulas. Akhirnya, sekitar tengah malam, korban pun dihabisi kedua pelaku dengan menjerat leher korban dengan sebuah tali tambang yang sudah disiapkan sebelumnya.

Cara menghabisi nyawa korban ini, lanjut Dedy, terbilang cukup sadis. Pasalnya, kedua pelaku menarik dengan arah berlawanan cukup kencang masing-masing ujung tali tambang tersebut. Kemudian, setelah korban meregang nyawa, tangan dan kakinya pun diikat menggunakan tali tambang lain lalu jenasahnya dibuang ke sungai Cisokan.

“Itu sebabnya, pada bagian leher korban, mengalami pembengkakan,” ucap dia.
Atas perbuatan keji itu, pihak kepolisian menyangkakan pasal 340 KUHPidana, yakni pembunuhan yang direncanakan dengan ancaman hukuman kurungan minimal seumur hidup atau maksimal hukuman mati.

“Unsur perencanaannya sangat jelas. Mulai dari lokasi, cara hingga waktu eksekusinya. Peralatan pun juga sudah direncanakan semua. Makanya kami sangkakan pasal 340 KUHP atau pembunuhan berencana,” tegas Dedy.

Dedy mengakui, meski sudah berhasil mengungkap kasus tersebut dan menangkap kedua eksekutornya, pihaknya masih melakukan pengejaran terhadap S yang menjadi otak pembunuhan tersebut.

“Eksekutor melakukan pembunuhan atas dasar imbalan dan permintaan dari S yang saat ini sedang kami kejar. Kedua pelaku tidak tahu betul apa alasan S ingin menghabisi korban. Pelaku hanya ditawari untuk membunuh korban dengan imbalan saja,” pungkas Dedy.(ruh/dep)