Sabu Dibungkus Permen, Dikendalikan dari Lapas

TERTUNDUK: Tiga remaja pengedar sabu tertunduk lesu. Mereka merupakan jaringan pengedar sabu bermodus cara dimasukan dalam bungkus permen mint.
TERTUNDUK: Tiga remaja pengedar sabu tertunduk lesu. Mereka merupakan jaringan pengedar sabu bermodus cara dimasukan dalam bungkus permen mint.
TERTUNDUK: Tiga remaja pengedar sabu tertunduk lesu. Mereka merupakan jaringan pengedar sabu bermodus cara dimasukan dalam bungkus permen.

POJOKSATU.id, CIANJUR-Untuk menghindari dan mengelabui petugas kepolisian, para pengedar narkotika kerap memakai modus yang terus diperbarui. Kali ini, tiga remaja pengedar narkotika jenis sabu berhasil diringkus Satuan Narkoba Polres Cianjur, Rabu (22/4) malam sekitar pukul 22.00 WIB.

Salah satu cara yang dipakai untuk menghindari pendeteksian petugas kepolisian, mereka membungkus paket-paket sabu itu ke dalam bungkus permen mint merk Relaxa. Selain itu, transaksi yang dilakukan pun tidak lagi dengan bertemu secara langsung, melainkan menaruh paket sabu dan uang tersebut di suatu tempat yang sudah disepakati sebelumnya.

Kapolres Cianjur AKPB Dedy Kusuma Bakti melalui Kasat Narkoba AKP Sugeng Heryadi mengatakan, dari penangkapan itu, pihaknya berhasil mengamankan ketiga pengedar berinisial NL (22) warga Gang Rinjani 2 RT 02 RW 14, Kelurahan Sayang, Kecamatan Cianjur, RR (22) warga Gang Kalimantan 3, Kampung Pamoyanan RT 10 RW 01, Pamoyanan, Cianjur dan RM (22) warga Kampung Panembong RT 01 RW 01, Desa Limbangan Sari, Nagrak, Cianjur.

“Awalnya kami mendapatkan informasi dari masyarakat bahwa di sekitar lokasi itu seringkali terjadi transaksi narkoba jenis sabu. Setelah itu kami langsung meluncur serta sempat mengintai dan memancing tersangka. Alhamdulilah, akhirnya kami berhasil menangkap NL dengan barang bukti lima paket sabu yang sudah dikemas dalam bungkus permen mint merk Relaxa,” kata Sugeng didampingi Kanit 1 Satnarkoba Polres Cianjur, Bripka Sugeng, Kamis (23/4) kemarin.


Dari penangkapan NL ini pula, polisi kemudian langsung mengembangkan penyelidikan dan berhasil menangkap RR di rumahnya dengan barang bukti sabu sebanyak lima paket yang masing-masing dibungkus dengan menggunakan plastik bening dan dimasukkan ke dalam sebuah bungkus rokok.

“Sedangkan tersangka yang terakhir, yakni RM, yang juga diamankan di rumahnya, kami mendapati barang bukti sabu sebanyak dua paket siap edar,” ujar Sugeng.
Total, dari ketiga pengedar tersebut, polisi berhasil menyita 11 gram sabu siap edar, lima buah telepon selular, sebuah alat hisap atau bong, dua buah korek api gas dan sejumlah plastik bening yang diduga digunakan untuk membungkus sabu.

“Saat ini, ketiga tersangka masih dalam pemeriksaan dan pengembangan. Kuat dugaan, masih ada bandar yang lebih besar lagi. Kami sedang mengejarnya sekarang,” tutur Sugeng.

Dalam hasil pemeriksaan dan interogasi sementara serta pengakuan ketiga pengedar sabu tersebut, ada pengakuan yang cukup mengejutkan. Ternyata, lanjut Sugeng, bisnis sabu tersebut dikendalikan oleh seorang narapida berinisial WN yang mendekam di Lembaga Pemasyarakatan Klas II B Cianjur atas kasus narkoba jenis ganja.

“Bandar pengendalinya adalah napi narkoba jenis ganja dari dalam LP berinisial WN yang divonis lima tahun penjara. WN sendiri baru satu tahun menjalani hukumannya,” jelas Sugeng.

Berbekal informasi tersebut, pihaknya pun langsung menuju ke LP Klas II B Cianjur untuk menyergap WN. Dari napi tersebut, polisi menyita dua buah telepon selular yang selama ini dipakainya untuk berkomunikasi dengan ketiga anak buahnya itu dalam mengedarkan sabu di Cianjur.

“Awalnya, WN ini membantah. Tapi setelah kami menemukan telepon selularnya dan mencocokkan nomor teleponnya, ia tidak bisa lagi mengelak,” jelas dia lagi.

Tak pelak, WN pun tidak luput dari interogasi pihak kepolisian. Menurut pengakuannya, ujar Sugeng, sabu tersebut juga didapatkan dari seorang narapidana narkoba lainnya yang kini sedang mendekam di LP Klas I Cirebon.

“Kami langsung berkoordinasi dengan aparat di sana untuk terus mengembangkan kasus ini. Kalau melihat alurnya, sangat dimungkinkan ini jaringan yang cukup besar karena bisa menyambungkan dari Cirebon ke Cianjur. Apalagi, kendalinya adalah napi yang ada di dalam LP,” tegas Sugeng.
Akibat perbuatan yang dilakukan, ketiganya pun disangkakan menggunakan Pasal 114 Undang-undang Nomor 35 Tahun 2009 Narkotika dengan ancaman hukuman kurungan minimal 5 tahun dan maksimal 20 tahun.
“Sedangkan dendanyapaling sedikit Rp1 miliar dan paling banyak Rp10 miliar,” tukas Sugeng.

Menurut pengakuan NL dan RR di depan penyidik, keduanya mengaku bahwa sebenarnya mereka memiliki 28 paket sabu. Masing-masing, kata NL, mengedarkan 14 paket sabu. Sedangkan RM adalah teman sepermainan keduanya yang kerap diajak dan diminta menempel (menaruh paket sabu, red) di tempat tertentu.

“Baru jualan sekitar tiga minggu lalu. Ini sudah dua kali ambil. Yang kedua ini sisa 11 paket, sisanya sudah laku” aku NL.

Ditanya tentang berapa keuntungan yang didapatkannya, NL mengaku bisa meraup keuntungan pribadi Rp100 ribu poer paketnya. Sedangkan hasil keuntungan itu ia gunakan untuk kebutuhan sehari-hari, pasalnya, ketiganya itu adalah pengangguran.
“Keuntungannya baru diberikan kalau sudah habis semua. Yang ini (kedua, red) belum dikasi untungnya,” kata NL.

RR mengaku, setelah terjadi kesepakatan dalam komunikasi via telepon selular, para pengedar itu pun menyuruh konsumennya untuk menaruh uang di suatu tempat yang sudah disepakati. Kemudian, uang itu diambil oleh tersangka dan menggantinya dengan paket sabu yang dibeli dan sudah dibungkus menggunakan bungkus permen.

“Saya hanya dapat perintah dari WN yang ada di dalam LP Cianjur dan tinggal melaksanakan saja. Selama ini tidak pernah ketemu dengan konsumennya secara langsung,” ujar RR.(ruh/dep)