Calissa Melawan Penyakit Kelainan Hati

MENAHAN SAKIT: Carissa mencoba tetap kuat melawan penyakit kelainan hati yang dideritanya.
MENAHAN SAKIT: Carissa mencoba tetap kuat melawan penyakit kelainan hati yang dideritanya.
MENAHAN SAKIT: Carissa mencoba tetap kuat melawan penyakit kelainan hati yang dideritanya.

POJOKJABAR.com, RADAR BOGOR – Carissa Novalina Putri (4) bocah mungil tak lagi ceria, anak kedua dari pasangan Nina Nurhaerani (37) dan Angga Sembada (38) divonis menderita penyakit kelainan hati atau Buddchiari Syndrome.

Tak ada lagi aktivitas yang dapat dilakukan oleh warga Kampung Bashir RT 07/04, Kelurahan Cikaret, Kecamatan Bogor Selatan itu. Setiap hari, Carissa harus merasakan sakit, lantaran perutnya yang kini terus membesar.  “Awalnya saya tidak tahu akan sakit seperti ini, pertama itu Carissa mengeluh sakit perut, saya masih ingat waktu itu 22 Maret 2015,” ujar Ibu Carissa, Nina.

Menurut dia, Carissa sempat mengeluhkan perutnya kembung dan tidak bisa buang angin. Namun, setelah beberapa hari itu perut gadis mungil itu tiba-tiba saja membesar, persis seperti orang hamil.

“Kondisi itu membuat keluarga panik, akhirnya waktu itu sempat dilarikan ke Rumah Sakit PMI untuk menjalani pemeriksaan,” bebernya.


Sempat Carissa menjalani pemeriksaan, hasilnya terdapat cairan dibagian perutnya.  Saat itu, dokter merujuk Carissa ke RS Cipto Mangkunkusumo (RSCM), setelah menjalani pemeriksaan, dokter mengatakan jika anaknya  memiliki penyakit kelainan hati.

“Anak saya sempat diambil cairannya. Perut Carissa saat itu mengecil, sempat diizinkan pulang oleh dokter, tetapi dua hari kemudian perutnya kembali membesar,” tuturnya.

Sudah beberapa kali Carissa menjalani perawatan di rumah sakit termasuk RSCM, tetapi belum ada perubahan. Bahkan, Carissa yang bercita-cita untuk sekolah tahun ini akhirnya pupus, lantaran harus berobat jalan satu bulan dua kali.

“Anak saya dipasang selang untuk mengeluarkan cairan, sekarang saja sudah pemasangan alat keempat,” bebernya sedih. Selain itu, dokter juga memvonis jika ada penyumbatan di tiga titik pembuluh darah.

“Saya harap jika pembuluh darah yang tersumbat dapat ditangani, jika tidak maka harus tranplantasi hati, biaya sangat mahal sekitar Rp1,2 miliar,” keluhnya.

Padahal yang hanya ditangani oleh BPJS itu tak sampai sebesar itu.

“Saya ingin ada kemukzijatan, penyakit anak saya diangkat, tetapi jika tidak saya juga bingung, uang sebanyak itu saya punya dari mana,” pungkasnya.

(radar bogor/ded/c)