Ratusan Anak Kurang Gizi

SUDAH TERLAMBAT: Nurul Ilham (10), warga Kampung Cibunar, Desa Tenjo, saat dibawa tim relawan kesehatan ke rumah sakit.
SUDAH TERLAMBAT: Nurul Ilham (10), warga Kampung Cibunar, Desa Tenjo, saat dibawa tim relawan kesehatan ke rumah sakit.
SUDAH TERLAMBAT: Nurul Ilham (10), warga Kampung Cibunar, Desa Tenjo, saat dibawa tim relawan kesehatan ke rumah sakit.

POJOKJABAR.id, RADAR BOGOR-Data Relawan Kesehatan Bogor Barat, lebih 500 anak dari keluarga miskin menderita kurang gizi di Bogor Barat. Bahkan, beberapa di antaranya sudah menderita gizi buruk. Salah satunya Nurul Ilham (10), warga Kampung Cibunar, Desa Tenjo, Kecamatan Tenjo.

Ilham yang merupakan anak hansip ini kondisinya cukup memprihatinkan. Tubuhnya hanya tersisa tulang dan kulit. Akibatnya, Ilham hanya bisa duduk di kursi roda. Itu akibat Ilham tidak mendapat perawatan kesehatan serius sejak kecil.

Melihat kondisi Ilham yang menyedihkan itu, tim relawan kesehatan akhirnya membawanya ke RS Hermina dan Eka Hospital, Senin (24/8/2015). Sayangnya, upaya mereka ini sudah dianggap terlambat.

“Hari Senin kami bawa dia (Ilham, red) kedua rumah sakit. Kami justru dimarah-marahi pihak rumah sakit, karena baru dibawa sekarang. Sebetulnya kata dokter, kalau cepat ditangani Ilham bisa disembuhkan,” ujar Ketua Relawan Kesehatan Peduli Bogor Barat, Dessy kepada Radar Bogor, kemarin.


Ilham menderita disabilitas sejak lahir. Setelah diteliti lebih lanjut tim relawan, sejak ibunya Ansini (48) sedang hamil asupan gizinya kurang. Untuk itu, efek kurang gizi yang dialami ibunya menular ke Ilham yang sedang dikandung.

“Ketika ibunya mengandung memang ibunya juga kurang gizi, jadi kebawa ke anaknya. Ditambah ibunya tidak pernah dikontrol bidan,” ujarnya. Tim relawan menyayangkan sikap petugas kesehatan setempat.

Bahkan, keprihatinan relawan kesehatan seakan diremehkan petugas posyandu. “Petugas posyandu sudah mengajarkan orang tua Ilham untuk bohong kepada kami kalau Ilham sudah mendapatkan perawatan,” bebernya.

Mereka kini mulai angkat tangan karena tidak hanya Ilham yang harus mendapat perawatan Relawan Kesehatan Bogor Barat. Karena, masih ada ratusan anak yang membutuhkan perhatian.

Dessy bersama tim relawan lain berharap pemerintah memerhatikan kondisi gizi buruk yang melanda anak-anak di Bogor Barat. Dengan jumlah penderita tidak sedikit itu, sudah sepantasnya pemerintah turun tangan. “Kami ingin pemerintah membantu dan turun tangan. Kami ingin Ilham dan anak-anak lain bisa sembuh. Sekarang kami sudah capek,” cetusnya.

Apalagi warga miskin di Bogor Barat masih banyak yang tidak memiliki kartu Badan Pelayanan Jaminan Sosial (BPJS). “Masih banyak orang miskin di sini yang tidak punya BPJS. Makanya, mereka sulit mendapatkan pelayanan kesehatan,” tandasnya.

Banyaknya anak kurang gizi di Bogor Barat ini juga dibenarkan Kasi Gizi Dinkes Kabupaten Bogor, Dewi. Namun, kurang gizi itu tidak dapat diartikan sebagai gizi buruk. Tapi, ini awalan seseorang bisa mengalami gizi buruk.

“Gizi buruk memiliki beberapa indikator. Bisa dari berat badan atau tinggi badan, barulah bisa dikatakan gizi buruk. Tapi yang didata saat ini masih berindikasi kurang gizi,” ujarnya kepada Radar Bogor, kemarin.

Namun, Dinkes belum bisa merekap semua penderita gizi buruk. Dinkes baru mendata kurang gizi di tiga kecamatan, yaitu Kecamatan Tenjo, Leuwiliang, dan Jasinga.

“Kami belum bisa merekap semua. Tapi, tiga kecamatan itu baru kami data,” ujarnya.

Pencegahan kurang gizi ini, seharusnya dilakukan aparatur desa. Jangan sampai, penanganan yang lambat menambah penderita gizi buruk.

“Kami sarankan seperti itu, karena aparatur desa yang paling dekat dengan masyarakat, baru laporkan ke dinas. Harus ada respon tanggap dari aparatur desa, jika tidak maka penderita akan bertambah,” paparnya.

(radar bogor/rp1/c)