SEAMBC 2015 Dibuka di Pakansari

LEVEL DUNIA: Vice President WAMSB Mike Townsend (keempat dari kanan) memberi penjelasan soal aturan penjurian internasional di ruang rapat III Balaikota Bogor, Selasa (25/8/2015).
LEVEL DUNIA: Vice President WAMSB Mike Townsend (keempat dari kanan) memberi penjelasan soal aturan penjurian internasional di ruang rapat III Balaikota Bogor, Selasa (25/8/2015).
LEVEL DUNIA: Vice President WAMSB Mike Townsend (keempat dari kanan) memberi penjelasan
soal aturan penjurian internasional di ruang rapat III Balaikota Bogor, Selasa (25/8/2015).

POJOKJABAR.id, RADAR BOGOR – Sebanyak 50 juri lokal yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia mengikuti coaching clinic yang diadakan Panitia pelaksana South East Asia Marching Band Championship (SEAMBC) 2015 di ruang rapat balaikota I, Selasa (25/8/2015).

Kegiatan tersebut dilakukan guna memberikan pemahaman kepada para juri lokal mengenai tekhnik dan tata cara menilai versi World Association of Marching Show Bands (WAMSB).

Ketua Pelaksana Kejuaraan SEAMBC 2015, Gatut Susanta mengatakan, melalui coaching clinic para juri akan diberikan pemahaman teoritis mengenai segala bentuk aturan yang digunakan WAMSB. Selanjutnya, para juri tersebut akan diuji mengaplikasikan pemahaman teorinya melalui praktik. Praktik penjurian dilakukan selama 3 hari pada saat lomba berlangsung.

Praktik penjurian dilakukan selama 3 hari pada saat lomba berlangsung. Hasil dari praktik itu, sambung dia, akan diambil 2 juri yang dinyatakan layak sebagai juri bertaraf international versi WAMSB. Pertama juri yang menguasai bahasa Inggris dan aturan WAMSB. Kedua, juri yang hanya menguasai aturan WAMSB, namun tidak fasih berbahasa Inggris.


“Ada 100 orang yang mengikuti sosialisasi ini. Sebanyak 50 orang diantaranya merupakan juri lokal yang berasal dari berbagai daerah. Khusus Bogor ada 2 orang juri yang mengikuti kegiatan ini,” ucap Gatut.

Gatut juga menerangkan, terdapat perbedaan yang mendasar antara penilaian sistem drum band Indonesia dan international versi WAMSB. Perbedaan itu terletak dari paradigma penilaian lomba.

Dalam sistem penilaian Drum Band Indonesia, mengenal penilaian reward dan punishment. Dimana, peserta lomba yang melakukan kesalahan akan dihukum melalui pengurangan nilai. Tak jarang, penilaian tersebut kerap membuat peserta lomba mendapati nilai minus. Sementara peserta yang tampil dengan baik kerap mendapat reward berupa nilai tambahan.

Sebaliknya, dalam sistem international WAMSB, tidak dikenal punishment. Karena seorang juri lomba itu tidak bertindak sebagai hakim. Jadi, bila diketemukan kesalahan yang dilakukan peserta lomba, maka juri akan memberikan pengarahan.

“Juri WAMSB akan bertindak sebagai pembina. Kalau ada kekurangan pada peserta lomba, seorang juri itu akan berkomentar sebaiknya anda begitu atau melakukan itu. Ini kurang serasi dengan itu dan sebaiknya kamu serasikan,” sebut Gatut yang juga ketua umum PDBI Jawa Barat.

Untuk itu, menurut Gatut, mindset penilaian juri Indonesia perlu dirubah. Dimana, juri tidak mencari-cari kesalahan peserta lomba, namun memberikan pengarahan pada peserta lomba untuk melakukan hal yang paling benar.

“Karena drum band merupakan olahraga seni dan bukan olahraga prestasi semata,” tegasnya.

(radar bogor/tik)