Tukang Ojek Meradang, Larangan Masuk Kampus Diprotes

MUSYAWARAH: Seorang tukang ojek mengajukan keberatan atas kebijakan Green Campus saat diskusi dengan pihak IPB dan jajaran aparat Kecamatan Dramaga di GWW IPB, Jumat (21/8/2015).
MUSYAWARAH: Seorang tukang ojek mengajukan keberatan atas kebijakan Green Campus saat diskusi dengan pihak IPB dan jajaran aparat Kecamatan Dramaga di GWW IPB, Jumat (21/8/2015).
MUSYAWARAH: Seorang tukang ojek mengajukan keberatan atas kebijakan Green Campus saat diskusi dengan pihak IPB dan jajaran aparat Kecamatan Dramaga di GWW IPB, Jumat (21/8/2015).

POJOKSATU.id, RADAR BOGOR– Ratusan tukang ojek berkumpul di kampus IPB Dramaga, Jumat (21/8/2015).

Kedatangannya semata-mata mempertanyakan nasib mereka, yang akan dilarang masuk wilayah kampus mulai 1 September mendatang.

Pelarangan itu dilakukan oleh pihak kampus lantaran kebijakan Rektor IPB, yang telah mencanangkan program Green Campus. Sehingga, keberadaan transportasi di dalam lingkungan kampus hanyalah sepeda, mobil listrik dan bus dengan bahan bakar gas.

Padahal, sekitar 219 warga dari Desa Babakan, Kecamatan Dramaga dan Desa Cibanteng, Kecamatan Ciampea telah bertahun-tahun mengandalkan sewa ojek dari mahasiswa. Mereka khawatir akan kehilangan mata pencaharian.


Kedatangan para sopir ojek itu dihadang aparat keamanan dari Polsek Dramaga serta Koramil Ciomas. Mereka lantas digiring untuk bermusyawarah dengan pihak kampus di ruangan gedung Graha Widya Wisuda (GWW) IPB.

Dalam musyawarah itu, pihak kampus yang diwakili oleh Director Pengembangan Bisnis IPB, Yusli Wardiatno pun menjelaskan terkait program Green Campus yang katanya telah lama dicanangkan oleh Rektor IPB.

“Untuk berjalannya program ini, kita akan menggunakan kendaraan bermotor yang ramah lingkungan, dengan rendah polusi. Sekaligus demi penataan kampus,” terang Yusli di hadapan para tukang ojek tersebut.

Selain itu, Yusli menerangkan, pihaknya pun sebelumnya telah menyosialisasikan kepada ratusan tukang ojek tersebut yang akan direkrut SDM-nya.

“Kita sudah pegang datanya, ada 216 warga, nanti kita akan seleksi sesuai keahliannya,” katanya.

Pihak kampus sendiri, hanya mempekerjakan 6 jam dalam satu hari.

“Upahnya kita berikan Rp800 ribu per bulan,” terangnya. Upah itupun dinilai belum memuaskan tukang ojek. Sakri, perwakilan ojek yang biasa mangkal di Bank BNI, Desa Babakan, misalnya. Ia menyebut, dengan ngojek ia sehari mendapatkan minimal Rp50 ribu.

“Para tukang ojek itu kerja tak kenal waktu. Kalau hanya kerja 6 jam tapi gaji Rp800 ribu, kita keberatan kalau tidak ngojek,” tukasnya.

Para tukang ojek itu pun mempertanyakan status pekerjaannya serta bagaimana cara rekrutmennya. Dan yang pasti, mereka pun meminta upah lebih. Musyawarah pun belum menghasilkan kesepakatan bersama. Yusli mengaku, pihaknya harus merapatkan dulu dengan Rektor IPB.

“Setelah selesai, kita akan panggil lagi para warga,” katanya. Ratusan tukang ojek dikawal oleh anggota kepolisian serta koramil pun bubar dengan tertib.

(radar bogor/han/c)