Pungli Merajalela di Terminal Baranangsiang

DIAMBIL PUSAT: Pengelolaan Terminal Baranangsiang akan dikelola oleh pusat pada 2016. Perjanjian antara pemkot dengan PT PGI terancam.
LAHAN BASAH: Sebuah bus keluar dari Terminal Baranangsiang. Diduga ada pungli di terminal yang tak kunjung direvitalisasi itu.
LAHAN BASAH: Sebuah bus keluar dari Terminal Baranangsiang. Diduga ada pungli di terminal yang tak kunjung direvitalisasi itu.

POJOKJABAR.id, RADAR BOGOR– Bukan rahasia umum lagi bila terminal menjadi lahan empuk bagi oknum untuk mengeruk uang pungutan liar (pungli) dari pengendara bus. Itu pun terjadi di Terminal Baranangsiang, Kecamatan Bogor Timur, Kota Bogor. Aksi pungli masif dilakukan di sana.

Informasi yang dihimpun Radar Bogor, setiap bus yang masuk dan keluar terminal dikenakan pungutan sebesar Rp2.000 per kendaraan. Padahal, status terminal masih abu-abu karena ada MoU antara Pemkot dengan PT Pancakarya Grahatama Indonesia (PGI) terkait pengelolaan Terminal Baranangsiang.

Praktik itu sudah berlangsung lama. Parahnya lagi, bagi bus yang terpaksa menginap juga dibebankan biaya tambahan. Untuk kendaraan kecil, dibanderol Rp15.000, sedangkan bus besar dipatok Rp20.000 per malamnya.

Dikonfirmasi, Kepala UPTD Terminal Dinas Lalu Lintas Angkutan Jalan (DLLAJ) Kota Bogor, Islahudin membantah jika ada pungli di terminal. Menurut dia, ada aturan penetapan retribusi terminal yakni berdasarkan Perda Retribusi Nomor 5 Tahun 2012 tentang Jasa Usaha.


“Atas dasar itu kami melakukan pungutan retribusi. Memang sudah ada kerja sama dengan PT PGI, tapi hingga kini perjanjian belum berjalan. Sehingga, aktivitas di terminal masih berjalan, termasuk pungutan retribusi,” ujarnya.

Jika terminal sudah dibangun, maka secara otomatis pungutan tidak akan diambil. Retribusi yang berlaku merupakan retribusi armada bus sesuai klasifikasi kendaraan.

“Pungutan dibebankan mulai dari Rp1.500 hingga Rp3.000, sedangkan retribusi lain berasal dari kios dan parkir,” bebernya.

Setiap bulan, kata dia, DLLAJ Kota Bogor dibebankan target PAD terminal sebesar Rp1,6 miliar dari seluruh terminal yang dikelola pemkot. Sedangkan pendapatan Terminal Baranangsiang yakni Rp485 juta per tahun.  Islahudin menduga praktik pungli itu dilakukan oleh pihak luar seperti calo.

“Kami tegaskan, yang dipungut itu hanya pada saat kendaraan masuk saja,” tegasnya.

(radar bogor/ded/c)