Krisis Air Bersih, Terpaksa Minum Air Kali

TAK LAYAK MINUM: Salah seorang warga Kampung Bolang, Desa Tajur, menampung air Kali Cileungsi untuk kebutuhan sehari-hari.
TAK LAYAK MINUM: Salah seorang warga Kampung Bolang, Desa Tajur, menampung air Kali Cileungsi untuk kebutuhan sehari-hari.
TAK LAYAK MINUM: Salah seorang warga Kampung Bolang, Desa Tajur, menampung air Kali Cileungsi untuk kebutuhan sehari-hari.

POJOKJABAR.id, RADAR BOGOR-Akibat krisis air bersih, warga Kampung Bolang, Desa Tajur, terpaksa menggunakan air Kali Cileungsi untuk kebutuhan sehari-hari. Terlebih, mereka tak pernah dapat bantuan dari Pemkab Bogor.

Untuk memenuhi kebutuhan, warga tak lagi merisaukan dampak dari mengonsumsi air kotor Kali Cileungsi ini.

“Sumur sudah tidak ada airnya. Tidak ada bantuan air bersih dari pemerintah. Hanya air ini (Kali Cileungsi, red) yang bisa kami manfaatkan,” terang Yuyu Kinasih (29) kepada Radar Bogor kemarin (19/8).

Kata dia, sebelum dimasak, air itu dijernihkan terlebih dahulu dengan didiamkan tiga hingga lima jam.


“Sudah ngendap kotorannya, baru saya ambil pelan-pelan agar kotorannya tidak terbawa,” terangnya.

Awal mengonsumsi air kali, Yuyu mengaku sempat sakit perut. Namum, kini tidak lagi.

“Pas awal-awal saja kami sekeluarga sakit perut. Sudah hampir dua bulan ini pakai air kali, alhamdulillah tidak ada masalah,” terangnya.

Hal sama juga dialami Nurbaiti (19). Setiap hari Nur mengantre untuk memperoleh air. Meski air yang diambil tidak jernih, dengan air Kali Cileungsi mereka bisa memenuhi kebutuhan.

Ibu satu anak ini mengaku, menggunakan air kali tidak hanya untuk mencuci piring dan baju, tapi juga untuk masak. “Kalau beli air curah terus, saya tidak sanggup. Jadi terpaksa gunakan air ini,” terangnya.

Akibat mengonsumsi air kali itu, anaknya sempat sakit perut.

“Kalau saya tidak apa-apa. Cuma anak yang mencret-mencret. Tapi, saya tidak tahu apakah karena air ini atau yang lain,” ujarnya.

Sekarang ini, Nur terpaksa menggunakan air curah untuk anaknya.

“Kalau sekarang-sekarang buat susu anak, saya gunakan air curah. Airnya saya masak dulu dan alhamdulillah tidak mencret lagi,” terangnya.

Sementara itu, Kepala Desa Tajur Aja Sukarja membenarkan banyaknya warga yang mengandalkan aliran Kali Cileungsi. Jumlah warga yang kekeringan di desanya ada sekitar 890 kepala keluarga (KK).

Meski menggunakan air kali, Aja mengaku belum mendengar ada keluhan berarti.

“Belum ada penelitian yang mengatakan air itu berbahaya. Makanya, banyak warga menggunakan air kali selama kemarau ini,” tuturnya.

Aja mengatakan, pihaknya akan berkoordinasi dengan kecamatan untuk meminta bantuan kepada Pemkab Bogor. “Jika mendesak, saya akan koordinasi dengan kecamatan untuk minta bantuan air bersih,” tuturnya.

(radar bogor/azi/c)