Disbudparekraf Kota Bogor Hidupkan Kembali Permainan Tradisional

AWAS JATUH: Salah satu peserta lomba jajangkungan berhasil melewati rintangan. Lomba ini diadakan untuk menghidupkan kembali permainan tradisional yang semakin ditinggalkan.
AWAS JATUH: Salah satu peserta lomba jajangkungan berhasil melewati rintangan. Lomba ini diadakan untuk menghidupkan kembali permainan tradisional yang semakin ditinggalkan.
AWAS JATUH: Salah satu peserta lomba jajangkungan berhasil melewati rintangan. Lomba ini diadakan untuk menghidupkan kembali permainan tradisional yang semakin ditinggalkan.

POJOKJABAR.id, RADAR BOGOR – Permainan tradisional seperti bedil jepret dan gangsing, cenderung mulai ditinggalkan anak-anak masa kini. Mereka lebih memilih permainan modern antara lain PlayStation atau gadget. Padahal, dalam permainan tradisional banyak tersimpan makna persatuan dan kesatuan yang membentuk karakter anak sejak dini.

“Kami melihat, anak-anak dan remaja sekarang jarang  yang mengetahui permainan-permainan tradisional yang dahulu sering dimainkan oleh nenek moyang,” ujar Kepala Dinas Kebudayaan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sahlan Rasyidi seperti dilansir Radar Bogor, Kamis (20/8/2015).

Menurut dia, pesatnya perkembangan teknologi serta minimnya ruang terbuka untuk bermain menjadi faktor mulai ditinggalkannya permainan tradisional. Seperti engrang, kelom batok, rorodaan, babancakan, sorodot gaplok, gangsing, gatrik, bedil jepret, dan sumpit.

“Makanya, untuk menarik minat, kami lombakan permainan tradisional ini. Pemenangnya akan diseleksi untuk pertandingan tingkat provinsi,” terangnya di sela-sela lomba permainan tradisional, di Lapangan Sempur, Rabu (19/8/2015).


Permainan tradisional, kata dia, dapat meminimalisasi terjadinya aksi tawuran di kalangan para pelajar. Sebab, dengan adanya permainan, para pelajar bisa saling mengenal satu sama lain dari sekolah yang berbeda, sehingga tidak ada lagi tawuran. Sahlan berharap, permainan tradisional bisa terus dijaga.

“Lomba ini akan menjadi agenda rutin kami, dalam melestarikan permainan tradisional,” ungkapnya.

Sementara itu, warga Kelurahan Kebon Pendes, Saeful Anwar (32), mengaku senang melihat para pelajar memainkan permainan tradisional. Menurut dia, permainan tradisional yang dimainkan, seakan mengembalikan memorinya masa kecilnya.

(radar bogor/hur/c)