Selidiki Aksi Mogok Pedagang Ayam

Tulus Abadi
Tulus Abadi
Tulus Abadi

POJOKJABAR.id, RADAR BOGOR-Aksi mogok jualan yang dilakukan pedagang ayam di wilayah Jabodetabek berhasil meresahkan masyarakat. Pemerintah diminta mengusut tuntas penyebab dan aktor yang menggerakan pedagang ayam hingga tidak mau berjualan selama dua hari terakhir ini.

“Harus diusut tuh apa penyebabnya mogok. Apakah latah dengan pedagang daging sapi,” kata Ketua Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Tulus Abadi seperti dilansir Radar Bogor, Rabu (19/8/2015).

Menurutnya, jika kenaikan harga daging ayam itu tidak wajar, berarti ada oknum yang sengaja yang memainkan. Namun jika kenaikanya wajar, dikatakan Tulus, mungkin itu merupakan efek dari harga daging sapi.

“Karena daging sapi mahal, banyak yang beralih ke ayam. Walikota Bogor harus turun ke pasar untuk mengusutnya,” tegasnya.


Dampak dari aksi mogok jualan ini memang merugikan konsumen. Apalagi, jika aksi itu hanya dilatar belakangi latah dengan para pedagang daging sapi. Sebagai komsumen, sambung Tulus, masyarakat yang dirugikan bisa saja menuntut.

“Ya, bisa (menuntut, red), tapi mau nuntut siapa? Pedagang ayam?,” kata Tulus.

Kepala Disperindag Kota Bogor, Mangahit Sinaga mengatakan, hingga kemarin, pedagang daging ayam di sejumlah pasar tradisional masih melakukan aksi mogok jualan. Pun harga jual di paaran saat ini masih berkisar antara Rp38-40 ribu. Dia juga menyesalkan aksi mogok tersebut.

“Yang kasihan yang konsumen. Apalagi para pengusaha resto atau rumah makan yang bahan dasarnya ayam. Seharusnya para pedagang memikirkan dampaknya sampai ke sana,” kata Mangahit kepada Radar Bogor, kemarin.

Jika kenaikan harga sejumlah komoditi selalu disikapi demikian oleh para pedagang, dia khawatir semua pedagang akan melakukan aksi yang sama ketika harga tinggi.

“Nanti kalau cabai mahal, pedagang cabai mogok, bawang mahal mogok juga. Kasihan konsumen dipermaikan seperti itu,” ujarnya

Sementara, Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (IKAPPI) Abdullah Mansuri mengatakan, ada dua penyebab kenapa harga ayam mahal. Yakni ada permainan di pedagang, dan soal stok daging ayam yang cukup. Sebab, data di para peternak menunjukkan per minggu surplus jutaan ekor ayam.

“Kemarin malam saya ketemu beberapa perwakilan pedagang. Bogor menyampaikan sempat minta izin mogok dan akhirnya terjadi. Ada beberapa yang memang inisiatif per pasar. Kami harap tidak ada pemaksaan untuk tidak berjualan,” kata Abdullah.

Dia mengatakan bila harga daging ayam naik karena kelangkaan pasokan, sangat tidak masuk akal di tengah data surplus. “Ayam pun kita tengok ke pasar, ukuran yang besar-besar masih bisa ditemukan. Artinya, tidak ada pemotongan ayam lebih dini, jadi terbantahkan kelangkaan pasokan,” katanya.

Menurutnya para pedagang boleh saja bereaksi terhadap kenaikan harga ayam yang sudah mencapai Rp40 ribu per kg. Namun sebaiknya para pedagang ayam tetap berjualan, tanpa harus mogok jualan.

“Kami meminta maaf kepada masyarakat yang sulit menemukan pedagang ayam di pasar. Kami berupa agar para pedagang ayam tetap berdagang sebisanya,” akunya.

(radar bogor/viv/rub/pkl6/jp/c)