Penambang Ilegal Beralih Jadi Petani

penambang-ilegal
ALIH PEKERJAAN: Eks penambang ilegal di Kecamatan Klapanunggal memanfaatkan lahan milik PT Indocement untuk bercocok tanam agar tidak lagi menjadi penambang liar.
ALIH PEKERJAAN: Eks penambang ilegal di Kecamatan Klapanunggal memanfaatkan lahan milik PT Indocement untuk bercocok tanam agar tidak lagi menjadi penambang liar.
ALIH PEKERJAAN: Eks penambang ilegal di Kecamatan Klapanunggal memanfaatkan lahan milik PT Indocement untuk bercocok tanam agar tidak lagi menjadi penambang liar.

POJOKJABAR.id, RADAR BOGOR-Sebanyak 27 penambang ilegal di Kecamatan Klapanunggal beralih profesi jadi petani setelah difasilitasi PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. Mereka ikut program Gerakan Tani Mandiri yang digagas perusahaan semen terbesar di Indonesia itu.

Ini juga dilakukan sebagai upaya mencegah maraknya penambang ilegal phospat di area tambang produsen Semen Tiga Roda di Desa Leuwikaret.

Coorporate Social Responsibility (CSR) Management PT Indocement, Aditya Punawarman menerangkan, galian ilegal ini membahayakan bagi penambang. Makanya, mereka mencoba memfasilitasi dan membantu para penambang.

“Kalau didiamkan pasti akan banyak korban. Karena kondisi galian sangat rawan. Sewaktu-waktu para penambang bisa terkubur longsor,” tuturnya seperti dilansir Radar Bogor Rabu (19/8/2015).


Sambung Adit, beberapa tenaga pelatih dikerahkan untuk mendidik 27 penambang ilegal tersebut. Tak hanya itu, fasilitas berupa tanah dan berbagai bantuan untuk penunjang juga diberikan kepada mereka secara cuma-cuma.

“Mereka tidak hanya dilatih, semua yang dibutuhkan warga pun kami bantu secara cuma-cuma. Mulai dari air, bibit, hingga lahan,” terangnya.

Saat ini, dari 18 hektare lahan produsen Semen Tiga Roda, sudah 5 hektare dimanfaatkan eks penambang ilegal tersebut. Mereka bisa memanfaatkan hasil pertaniannya tanpa harus melakoni pekerjaan lamanya. Seperti dirasakan Dadang (42). Warga Kampung Guhagajah, Desa Leuwikaret, ini bisa fokus mengelola lahan pertaniannya.

Dari hasil pertanian, Dadang bisa mencukupi kebutuhan keluarganya. “Alhamdulillah, sekarang tidur bisa tenang. Dulu tidak tenang karena harus dibayang-bayangi aparat kalau ketahuan menambang phospat, kan bisa dipenjara,” tuturnya.

Dengan bertani, Dadang bisa menyekolahkan anak-anaknya. “Anak saya semua sekolah. Yang tua sudah saya masukkan ke pesantren,” tutur bapak lima anak ini. Dadang sudah tidak lagi jadi penambang sejak 2014. Itu setelah dia mendapatkan sebidang tanah.

Tak hanya itu, berbagai bibit tanaman, racun hama, air hingga pelatihan pun diberikan perusahan.

“Saya dibantu bibit paya, jagung, cabe, dan terong. Semuanya saya tanam di lahan seluas 1.000 meter,” tuturnya.

Dari situ, Dadang telah memperoleh penghasilan hingga jutaan rupiah.

“Cabai, paya, jagung, dan terong sudah lebih dari dua kali panen,” ujarnya. Dadang pun bisa menyisihkan keuntungan untuk membeli seekor kambing.

Ke depannya, Dadang akan ternak kambing. “Kambing saya saat ini ada tiga. Dua bantuan Indocement dan satu ekor saya beli sendiri dari keuntungan jualan hasil pertanian,” tandasnya.

(radar bogor/azi/c)