Pedagang Daging Ayam Mogok Jualan

daging ayam
Pedagang daging ayam
Ilustrasi
Ilustrasi

POJOKJABAR.id, RADAR BOGOR–Sesuai janjinya, pedagang ayam di Kota dan Kabupaten Bogor Senin (17/8/2015)  mogok jualan. Lapak-lapak mereka di hampir pasar tradisional dibiarkan kosong melompong. Para pedagang sesumbar tak akan berjualan hingga Kamis (20/8) mendatang.

Tak nampak satu pun pedagang daging ayam berjualan di Pasar Cibinong, Kabupaten Bogor. Walhasil, masyarakat terpaksa membeli daging ayam ke supermarket.

“Sangat mengkhawatirkan. Kalau setiap saat selalu ada yang mogok, terus kami harus makan apa,” keluh pengunjung pasar, Minah (45).

Pedagang ayam di Pasar Cibinong, Sariman (50) menuturkan, ia dan rekan-rekannya menunggu niat baik pemerintah mengontrol harga daging ayam di pasaran. Hingga kini, belum ada tanda-tanda turunnya harga daging dari pedagang besar, sejak Hari Raya Idul Fitri 1436 Hijriah.


“Kami tak akan jualan hingga tiga hari ke depan, sampai ada kejelasan,” ujarnya sepereti dilansir Radar Bogor, Selasa (18/8/2015).

Menurutnya, saat ini harga ayam dari tempat pemotongan dibanderol Rp28 ribu per kilogram (kg). Padahal, normalnya di kisaran Rp22 ribu per kg. Pedagang semakin bingung karena kenaikan harga itu terjadi tanpa alasan yang jelas.

“Katanya, sih, ayamnya langka. Tapi, saya liat stoknya ada terus. Ini sebenarnya ada apa?” kesalnya.

Sariman menambahkan, para pedagang terpaksa menjual daging ayam potong di kisaran harga Rp38 ribu hingga Rp40 ribu per kg. Lantaran harga semakin tinggi, daya beli masyarakat pun menurun drastis.

“Sekarang banyak pembeli yang mengeluh, bahkan mikir dua kali buat beli daging ayam,” imbuh pedagang ayam lainnya di Pasar Cibinong, Ahmad Sobirin (50).

Dikonfirmasi soal itu, Direktur PD Pasar Tohaga Eko Romli membeberkan bahwa aksi mogok itu bukan keinginan pedagang sepenuhnya. Berdasarkan investigasi PD Tohaga, ada pedagang yang terpaksa mogok karena mendapat ancaman dari pedagang lain.

“Ada sebagian asosiasi pedagang yang mengancam untuk menggembosi ban kendaraan, bahkan mendenda. Oknum itu juga tak segan-segan mencari rumah potong ayam (RPA) yang masih memotong ayam dan akan mengambil hasil potongannya,” kata Eko.

Sementara itu, Ketua Asosiasi Pemotong Ayam Bogor Raya, Sony Listen menegaskan bahwa selama tiga hari ke depan, seluruh pedagang ayam meliburkan diri. Itu sebagai aksi solidaritas karena pedagang ayam terus merugi.

“Saya tekankan, aksi ini bukan mogok jualan, tetapi meliburkan diri selama tiga hari,” tegasnya.

Menurut dia, harga ayam hidup di pasaran masih terlalu tinggi. Sehingga perlu ada mekanisme pasar yang dapat mengembalikan harga agar kembali normal. Ia berharap, aksi mogok jualan membuat harga ayam potong turun hingga di kisaran Rp19,500-Rp20 ribu per kg. Itu mengingat dalam satu hari, pasokan ayam di Bogor Raya mencapai 150 ribu ekor. Jika aksi tersebut dilakukan selama tiga hari, artinya ada 450 ekor ayam yang tak terpotong.

“Kami bukan menekan harga, itu memang mekanisme pasar. Ayam yang tidak terpotong secara otomatis terjadi penumpukan. Hukum ekonomi berlaku suplai and demand. Suplai melimpah, kebutuhan seddikit, maka dipastikan harga turun,” cetusnya.

(radar bogor/rp1/rub/ded/hur/c)