Disdik Target Tuntaskan Buta Huruf 2018

Drs. H. Endjang Karyono, MBA,. MM--kepala bidang pendidikan nonformal1 (1)
Drs. H. Endjang Karyono, MBA,. MM--kepala bidang pendidikan nonformal1 (1)
Drs. H. Endjang Karyono, MBA,. MM kepala bidang pendidikan nonformal

POJOKJABAR.id, BOGOR – Menentaskan angka melek huruf (AMH), Dinas Pendidikan kabupaten Bogor layani 22.000 jumlah orang buta huruf tahun ini, dari jumlah total sebanyak 86.000 yang tersebar di 40 Kecamatan dengan berbagai program yang disupport dengan dana APBD.

Hal tersebut diungkapkan Kepala Bidang Pendidikan Non Formal Disdik Kabupaten Endjang Karyono. Menurutnya, dari hasil data yang mereka dapatkan dari Badan Pusat Statistik (BPS), ada sebanyak 86.000 warga yang berada di Kabupaten Bogor.

“Sebenarnya sejak 2008 kami sudah melayani angka melek huruf dan targetnya tahun 2014 sudah tidak ada lagi yang buta huruf,” jelasnya kepada Radar Bogor. Namun hal tersebut belum bisa dibuktikan dari data yang diterima dari BPS.

Menanggapi hal tersebut, ia mengatakan saat ini Disdik pun akan melayani atau memberikan pengajaran dan program untuk 25.500 warga buta huruf yang tersebar di 40 Kecamatan di Kabupaten. “Yang akan kami bagi pengelompokan sesuai dengan anggaran yang di dapat, menjadi 22.000 dengan APBD 2 Kabupaten dan 3.500 dari APBD Pusat, yang berada di dua kecamatan, yaitu Sukamakmur dan Jonggo,” tambah Endjang.


Sedangkan sisanya, sekitar 60.000 warga lagi akan dilayani dalam kurun tiga tahun terhitung sejak 2016, hingga 2018. Rencananya, sebanyak 22.000 warga yang akan diambil dari delapan hingga 10 kecamatan yang angka melek hurufnya masih rendah.

“Jadi tetap kami bagi atau kloterkan, tidak langsung dengan jumlah banyak, karena targetnya kan benar-benar menetaskan, jadi program dan pelatihannya pun harus fokus. Kalau kebanyakan ya watirnya ini menjadi sia-sia,” ungkapnya.

Walau sudah memiliki anggaran program, Endjang mengatakan pendataan masih menjadi kendalanya dalam menuntaskan buta huruf ini. “Tidak mungkin kami turun satu persatu ke kecamatan, ke desa, kecuali menggunakan kebijakan-kebijakan dari bupati, sekda, malalui camat, kepala desa dan lain sebagainya. Karena sudah sejauh ini kami lakukan pendataan, tapi masih saja ada yang belum terdata,” katanya.

Kendala lainnya adalah ada saja beberapa warga yang tidak bisa baca tulis tapi tidak mengaku karena merasa malu. Kendala yang seperti ini yang sangat susah dan tidak bisa dipertimbangkan. Tidak mungkin, lanjutnya, dinas mengadakan tes perorang untuk melihat kemampuan mereka. Pasti memerlukan dana yang lebih besar lagi.

Makanya, sambung Endjang, perlu adanya kesadaran warga untuk mau belajar tanpa merasa malu. “Karena dalam agama islam pun mengatakan bahwa menuntut ilmu itu kewajiban dan pendidikan itu sifatnya sebuah kebutuhan yang juga akan memajukan perekonomian keluarga bahkan negara,” ujar Endjang.

Sehingga, harapannya, sesuai dengan visi dan tujuan Bupati Bogor bahwa 2018 harus tuntas melek huruf bisa terwujud dan membuat masyarakat khususnya Bogor bisa terus berkembang terutama pada perekonomiannya. (ima/wan)