Penjual Ayam Ikut Mogok

GRAFIS
GRAFIS
GRAFIS

POJOKJABAR.id, RADAR BOGOR-Setelah pedagang daging sapi, kini giliran pemilik lapak-lapak daging ayam yang mogok jualan. Rencananya, semua rumah pemotongan di Bogor tak beroperasi mulai Minggu-Selasa (16-18/8). Alasan mereka, harga ayam hidup terlampau tinggi. Harga itu merupakan rekor harga tertinggi sepanjang sejarah.

“Kesepakatan kita, dari tanggal 16-18 Agustus, libur secara lokal Bogor yang diikuti oleh Jakarta dan Sukabumi. Seluruh broker diminta meliburkan, agar ada penurunan harga,” kata anggota Paguyuban Pedagang Daging Ayam, Sahroni.

Ditemui Usai pertemuan dengan pedagang daging ayam dan broker se-Kota dan Kabupaten Bogor, di Pondok Rumput, tadi malam Sahroni mengatakan bahwa aksi demo disebabkan para pedagang di pasar terus merugi. Saat ini, harga daging ayam Rp38-40 ribu per kg, dan harga ayam hidup Rp22-25 ribu per ekor.

“Kami akan membuat surat edaran berupa imbauan kepada para seluruh pedagang daging ayam di Bogor, Jakarta, dan Sukabumi untuk libur. Kita juga akan melakukan razia pada hari H ke sejumlah pasar, serta menyetop truk pengangkut ayam di jalan,” kata dia.


Ketua Paguyuban pedagang daging di Pondok Rumput, Sony Listen membenarkan rencana itu. Harga ayam yang sangat tinggi sudah terjadi selama satu pekan sejak Hari Raya Idul Fitri 1436 Hijriyah lalu. Tingginya harga daging itu diakibatkan harga ayam hidup dari broker juga sudah selangit.

“Dari atas sudah tinggi, pedagang bingung mau jual berapa. Harga segitu saja kita tidak dapat untung. Harga Rp40 ini tertinggi sepanjang sejarah, sebelumnya belum pernah setinggi ini,” kata Sony yang sudah meneruskan usaha pemotongan ayam keluarga sejak 73 tahun yang lalu.

Dengan kondisi itu, kata Sony, banyak pedagang ayam yang terpaksa gulung tikar karena tidak mampu mengikuti kenaikan harga yang drastis. Bahkan dia mengaku, sudah seminggu ini tidak mendapat untung sama sekali.

“Makanya untuk tidak rugi saja sudah alhamdulillah, kita jarang dapat untung. Padahal biasanya, dari per ekor saya dapat untung Rp1.500. Sekarang untuk dapat untung Rp500 saja sudah sangat sulit,” akunya.

Dari keuntungan itu, Sony mengaku 10 persennya diambil untuk biaya operasional termasuk menggaji 20 karyawannya. Dengan konsisi seperti ini, Sony terpaksa menombok. Setiap harinya, Sony memotong 2.000 ekor ayam. Diperkirakan, dia kehilangan omzet Rp3 juta per hari.

“Karena tidak ada pemasukan, terpaksa untuk biaya operasional kita talangi dulu,” kata dia.

Sony menyebutkan, kebutuhan daging ayam di Kota Bogor per harinya mencapai 30-40 ribu ekor per harinya. Khusus untuk RPH di Pondok Rumput, bisa memenuhi 70 persen kebutuhan di Kota Bogor. Sedangkan jika digabungkan keseluruhan dengan Kabupaten Bogor, kebutuhan ayam per hari lebih dari 150 ribu ekor.

“Kita mengambil ayam rata-rata kebanyakan dari Kabupaten Bogor, Sukabumi dan Cianjur. Paling banyak dari Bogor, tapi saya tidak tahu pasti jumlahnya,” kata Sony.

Selain itu, penyebab tingginya harga yang mencekik pedagang, pengusaha pemotongan ayam, dan peternak mandiri ini yakni karena harga pakan yang sangat tinggi. Itu diakibatkan kebijakan Pemerintah yang memotong subsidi pakan hingga 30 persen.

“Harusnya jangan langsung 30 persen, bisa perlahan agar kenaikannya juga tidak drastis yang akhirnya membuat pedagang merugi,” pungkasnya.

(radar bogor/viv/all/rub/pkl6)